Kamis, 19 Maret 2015

Ayatullah Ruhollah Khomeini


Bisa jadi sebelum tahun 1979, tidak seorang pun rakyat Iran menduga akan terjadi pergantian kekuasaan. Bahkan membayangkannyapun tidak. Dalam benak mayoritas, Shah Reza Pahlevi akan berkuasa seumur hidup bagaikan kaisar, turun tahta kalau sudah mangkat. Mungkin juga tidak ada yang membayangkan akan hadir seorang tua yang tampak ringkih, yang sepanjang hidupnya keluar masuk penjara, dan hidup dalam pengasingan mampu mendongkel behkan mampu mengusir sang Raja Diraja itu dari bumi tempat ia lahir.
doc. istimewa

             Ayatollah Ruhollah Khomeini datang dan Shah Reza telah pergi beberapa hari sebelumnya. Itulah hal yang paling membahagiakan bagi Ayatullah pada pagi hari 1 Februari 1979 ketika orang tua itu menginjakan kakinya kembali di tanah kelahiran setelah 15 tahun hidup di tanah pegasingan, sebuah desa kecil di Prancis, bernama Neauphlele Chateau. Perdana Menteri Shapour Baktiar yang sesungguhnya keras kepala, tidak berkutik. Para pejabat tinggi sipil, para Jenderal Angkatan Bersenjata, para petinggi Dinas Rahasia Savak yang terkenal kejam, juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata Khomeini hanya ringkih fisiknya, tetapi jiwa dan semngatnya bukan main kokohnya.

       Kenapa mereka tidak menagkap dan membunuh Khomeini? Tentu hal itu tidak akan mereka lakukan sebab sang pemimpin baru itu, saat menginjakan kaki di bumi Iran berada di tengah-tengah para pendukungnya. Jumlahnya jutaan. Diperkirakan ada sekitar 5 sampai 6 juta rakyat Iran menyambut kedatangan Khomeini di bandara Mehderabad, Teheran. Mereka memenuhi sekitar bandara. Jalan-jalan penuh sesak. Dalam situasi yang demikian itu, tidak mungkin menagnkapa atau membunuh sang Ayatullah. Semua orang dari berbagai macam ideologi, termasuk yang komunis, mengeluh-eluhkan musuh nomer satu Pemerintah Teheran pada waktu itu. Mungkin tidak ada yang tahu pasti mengapa lebih dari 90 persen raktyat Iran saat itu mendukung Khomeinidan memusuhi Shah Reza. Namun seorang tokoh pejuang mengatakan , karena Khomeini bersih, jujur, bermoral tinggi, penuh integritas, dan konsisten melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Shah yang diktator. “dialah satu-satunya Feedayen paling konsisten,” kata seorang pejuang.

               Perlawanan terhadap Shah Reza Pahlevidipicu oleh bebrapa faktor. Pertama pemerintahanya yang represif dengan menindak tegas para pengeritik dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Kedua, ekonomi yang merosot, diawali dengan hancurnya sector pertanian. Iran menjadi pengimpor gandum, beras, jagung dan buah-buahan. Ketiga, dibiarkanya budaya Barat secara leluasa sehingga mendesak kebudayaan Islam.padahal lebih dari 90 persen rakyat Iran memeluk Islam bermahzab Shiah. Keempat, obsesi Shah Reza untuk membangkitkan budaya lama, termasuk menggganti penanggalan Islam dengan penanggalan Cyrus Agung, hal itulah yang  membuat kamu Muslimin sangat kecewa.

                Namun dari semua itu, faktor pertama yang menjadi pemicu paling hebat. Rakyat tidak mau lagi hidup dalam baying-bayang ketakutan. Dalam baying-bayang kekejaman Savak. Maka munculah Ayatullah Khomeini yang memang lahir dari keluarga pejuang. Tidak sedikit pejuang penentang Shah Iran, baik berhaluan kanan, tengah maupun kiri. Namun belum ada yang menandingi Sang Ayatullah dalam hal konsistensi. Suka atau tak suka, orang tidak bisa membantah bahwa ia adalah pengobar revolusi terbesar dalam sejarah Islam, setelah revolusi moral dan ketauhidan yang dilancarkan Rasul Muhammad, di Jazirah Arab. Khomeini, yang selalu tampil tenang dan nyaris tanpa senyum ituadalah merk revolusi Islam. Kehadirannya dalam kanca politik telah mengubah monarki menjadi republik yang berasas Islam. Dari negeri yang selama 40 tahun berbaik-baik dengan Barat menjadi negeri yang sam sekali tidak ramah terhadap Barat.

Khomeini dilahirkan di kota Khomein Tengah, sekitar 180 km dari Teheran pada 17 Mei 1902. Tidak begitu banyak yang bisa diketahui tentang masa kecilnya. Konon ia bungsu dari enam bersaudara, anak Sayed Mustafa Mussavi, yang juga seorang Ayatullah. Ayahnya dibunuh karena menentang dinasti Kajar ketika Khomeini masih berusia Sembilan bulan. Ia kemudian diasuh oleh kakaknya Morteza di Qom, kota yang banyak melahirkan banyak pemimpin agama di Iran. Pada umur 19 tahun Khomeini mulai belajar tentang Agama Islam pada Ayatullah Haeri di Irak. Menjelang usia 30 tahun, Khomeini menikah dengan Ghode-Iran, seorang gadis dari keluarga kaya. Mereka dikaruniai lima orang anak. Ketika dewasa laki-laki berjenggot putih bagaikan kapas dan bersorban hitam ini dikenal sebagai Ayatullah Ruhollah Mussavi Khomeini.

Sejak muda Khomeini memang sudah memiliki obsesi untuk hadirnya sebuah Republik Islam yang bersendikan Al-Quran. Khomeini adalah seorang pemikir Islam. Ia telah menulis lebih dari 20 buku tentang teologi Islam. Selain itu, ia adalah guru dan ulama besar yang telah melahirkan lebih dari seribu pemimpi, yang kemudian menjadi elit di bidang keagamaan dalam yang tersebar di seluruh Iran.

Perlawanan Khomeini terhadap Shah Reza bahkan telah dimulai sejak Reza Shah yakni ayahnya Shah Reza pahlevi berkuasa. Bukunya yang pertama  Kashfol-Asrar, merupakan keritik tajam terhadap Reza Shah yang dianggap memerintah dengan sewenang-wenang. Ia menganggap Reza Shah telah menghancurkan kebudayaan Islam dan menjadi budak asing. Perjuangan menentang pemerintah tidak surut ketika Iran di bawah pemerintahan sang anak, Shah Reza Pahlevi. Penentangan bahkan semakin keras. Tahun 1962 Khomeini berhasil mengorganisasi pemogokan sebagai protes menentang kebijakan pemerintah yang memperbolehkan seorang saksi di siding pengadilan tak perlu disumpah Al-Quran lagi. Setahun kemudian, 1963, tentara Shah membunuh tidak kurang dari seribu demonstran dalam satu hari, Ayatullah Khomeini dipenjara untuk beberapa bulan, kemudian selama delapan bulan menjadi tahanan rumah. Pada bulan November 1964 barulah ia boleh kembali ke Qom.

Ternyata tahanan dan penjara tidak membuat Khomeini surut ke belakang. Ia terus berjuang sampai diasingkan ke Turki, Irak. Terkahir ia mngasingkan diri di Neauphele Chateau sebuah desa kecil di Prancis Selatan. Dari pengasingan itu ia melakukan perlawanan dengan pesan, pidato, ceramah, yang dikasetkan. Umumnya kaset-kaset itu merekam komentar Khomeini tentang kejadian-kejadian di Iran. Dalam pesannya itu ia selalu memihak kepada rakyat dan member semangat kepada mereka untuk melancarkan perlawanna kepada Pemerintah Teheran lebih keras. Dengan kata lain ia menganjurkan untuk melakukan pemberontakan.

Kaset Khomeini merupakan pembawa suara yang terang-terangan menentang Shah dan rezimnya. Sebelumnya memnag banyak oposisi yang menentang Shah, tetapi mereka berjuang secara sembunyi-sembunyi dan tidak berani mengeritik secara langsung. Keberanian Khomeini, mau tiddak mau menyulut keberanian rakyat Iran. Semangat perlawanna semakin tinggi. Apalagi setelah Khomeini menyebut-nyebut “Republi Isalm” yang kemudian disambut dengan antusias rakyat Iran yang notabene lebih dari 90 persen memeluk Islam itu.

Bisa jadi namanya akan selalu dikenang rakyat Iran sebagai pemeluk Islam bemahzab Shiah terbesar dunia. Seperti mereka mengenang Ali Bin Abi Tholib, Husein Bin Ali, serta imam-imam shiah besar lainnya. Khomeini memang seorang pemimpin besar, namun ia bukan seorang nepotism. Itulah salah satu cirri orang yang sangat dibenci keluarga Shah ini. Konon, selama ia berkuasa is tidak pernah menunjukan adanya gejala menjadikan anaknya sebagai putra mahkota, termasuk anaknya Ahmad Khomeini yang sejak muda menjadi orang kepercayaan atau semacam asisten pribadi.


Lepas dari karakter kekuasaan Khomeini pasca-revolusi yang juga mendapat banyak kritik pedas – perannya sebagai seorang pemimpin besar di dunia Islam tidaklah bisa di ingkari. Ayatullah Khomeini talah mencatatkan diri dalam sejarah sebagai orang yang berhasil mendirikan nergara islam. Setelah Rasul Muhammad medapat wahyu di Gua Hira dan medapat mandate kenabian, yang kemudian melahirkan Islam sebagai salah satu agama besar dunia.(50-t-p)

Anwar Sadat

doc. istimewa

CAMP DAVID, 1979, menjadi titik balik bagi Mesir yang selama berpuluh tahun berhadapan langsung dengan Israel di kancah perang. Anwar Sadat, Menachen Begin dan Jimmy Carter menandatangani perjanjian perdamaian. Gurun Sinai yang sejak perang besar tahun 1967 diduduki Israel dikembalika kepada Mesir. Dunia, terutama Barat, memuji Sadat dan Akademi Swedia memberinya hadia Nobel Perdamaian. Tentu saja bersama Begin. Namun Liga Arab mengecam keras dan menuduh Sadat egois karena demi Gurun Sinai ia melupakan saudara Arabnya yang lain. Presiden Suriah Hafez Assad dan pemimpin Libya Moammar Khadafy, dua pemimpin Arab yang marah terhadap Presiden Mesir itu. Beberapa tahun para pemimpin Liga Arab mengucilkan Sadat.

                Dua tahun sebelumnya, 1977, Sadat pernah membuat trobosan yang belum pernah dilakukan pemimpin Mesir lainnya, termasuk Gamal Abdul Nasser yang legendaries itu. Ia pergi ke Jerusalem untuk bertemu para pemimpin Israel. Kaum Muslimin garis keras marah. Namun tindakan Sadat baik ketika datang ke Jerusalem maupun Camp David mendapat banyak applaus dari para pemimpin dunia. Sadat telah melakukan hal yang berani dan monumental. Ia telah melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayang sama sekali. Mantan Presiden AS Gerald Ford pada waktu itu, tanpa bimbang sama sekali menyebut Anwar Sadat sebagai “Sosok Manusia di Abad 20”. Ketika itu Ford diminta majalh Time untuk mencalonkanya sebagai tokoh yang paling pantas mendapat gelar “Sosok Abad 20”.

                Anwar Sadat memang sudah membuat sejarah. Kendati pun untuk itu ia telah mengundang kebencian orang yang tidak menyukainya. Rakyat Mesir tentu tidak akan melupakan hari Selasa, 6 Oktober 1981, ketika meletus tragedi nasioanal terbesar di negeri lembah Nil itu. Adalah siang yang kelabu bagi bangsa mesir ketika hari itu berondongan peluru dari peserta parade militer menewaskan Sadat. Tragedi yang juga tidak pernah terbayangkan sama sekali. Tidak ada yang menyangka Sadat akan terbunuh ketika sedang memperingati kemenangan Mesir atas Israel dalam perang tahun 1973. Pada saat menyaksikan “parade kemenangan” di kursi kehormatan itulah ia ditembak. Menurut Helena Cobban di The Middle East rentetan tembakan yang mengakhiri hidup Presiden Mesir itu membuka era baru. Kata Cobban, yang menjadi kekuatan utama di Timur Tengah yang berkonfrontasi dengan Israel dan Barat bukan lagi nasionalisme sekuler melainkan Islam. Mungkin saja Cobban benar,bukankah pasca Reza Pahlevi, Iran juga menjadi “anti Barat”. Bahkan Saddam Hussein di Irak.  Konon sekelompok orang menembak Sadat, dipimpin oleh Letnan Satu Khalis Ahmad Syawqi al-Istambuli ada hubungannya dengan kelompok militant yang dikenal dengan nama Al-Jihad.

                “Mesir kehilangan putera terbaiknya,” kata Wakil Presiden Hosni Mubarak, yang kemudian menggantikanya memimpin negeri Piramid itu. Ia berjanji akan melanjutkan kebijaksanaan Sadat, tetap damai dengan Israel. Anwar Sadat sesungguhnya pernah bergandengan tangan dengan kalngan Islam “fundamentalis” untuk menghadapi kaum komunis. Pada tahun 1971, Sadat mendukung para mahasiswa Muslim di kampus-kampus seluruh Mesir untuk “melibas” mahasiswa yang berhaluan “kiri”. Sadat tidak menyadari kelompok mahasiswa yang ia dukung itu kemudian berkembang sendiri dan membentuk “Al-Jam’iyatul Islamiyah”. Enam tahun kemudian sebagian besar anggotanya menentang perdamaian yang ditempuh Sadat dalam meghadapi Israel. Sadat melihat perkembangan yang menghawatirkan. Maka, pada September 1981, satu bulan sebelum ia tewas tertembak ia mengeluarkan dekrit untuk membubarkan “jam’iyah”. Siapa yang tahu sejak saat itu timbul dendam yang membara. Dendam itu benar-benar memuncak ketika 1977 ia pergi ke Jerusalem dan 1979 menandatangani perjanjian Camp David. Oposisi terhdap Sadat terus berkembang. Bahkan dari sayap “Ikhwanul Muslimin” yang paling moderatpun memusuhinya. Berbagai media juga mengeritik keras kebijakan perdamaian Sadat. Al-I’tisham, misalnya,; mengatakn bahwa perdamaian Camp David itu hanyalah sebuah ilusi. Apa yang dilakukan Sadat tersebut diibaratkan sebagai “persekutuan dengan musuh Allah, musuh Rasul, musuh kaum beriman, musuh kemanusian dan keadilan”. “dari lubuk hati kami yakin perdaian itu palsu. Itu merupakan invasi tersembunyi kaum Yahudi terhadap masyarakat mesir yang merupakan kubu pertahanan Islam. Mesir adalah garis terakhir pertahanan menghadapi tuaga musuh Islam: penjajah Barat, kaum Zionis, dan komunis,” tulis Al-I’tisham. Pada tingkatan tertentu oposan Islam bertemu dengan oposan sekuler dan kemudian membentuk semacam koalisi anti Sadat. Hal inilah yang membuat Sadat marah dan menghadapi mereka dengan tangan besi. Ia juga pernah “merangkul” kaum Muslimin garis keras itu dengan memberlakukan hukum Islam dan menghukum orang Islam yang meninggalkan agamnya. Namun upaya itu tidak terlalu berhasil karena dapat tekanan opini dunia.

                Anwar sadat dilahirkan di desa MIt Abul-Kun, di delta sungai Nil yang subur sekitar 100 km dari Kairo. Ayahnya Mohammed el-Sadat seorang kerani di Angkatan Beesnjata yang bertugas di Sudan. Ibunya Sit el-Barien keturunan Mesir dan Sudan. Keluarga Sadat tinggal di rumah berdidnding tanah milik neneknya yang dipanggil Om-Mohammed – artinya ibunya Muhammed. Tahun 1925 ketika Sadat berusia tujuh tahun, seluruh keluarganya pindah ke Kairo dan Sadat melanjutkan sekolah di kota itu. Pada Usia 22 tahun, 1940, Anwar Sadat sudah lulus Akademi Militer Kerajaan Kairo. Saat itu juga ia menikah dengan Ekbal Mohammed Madi. Pada tahun 1942-1945 tanpa alsan yang jelas, Anwar Sadat ditahan. Setelah keluar dari penjara, 1945, setahun kemudian ia ditangkap lagi. Penagkapan kali ini dikaitkan dengan terbunuhnya menteri keuangan Mesir. Thaun 1948, Sadat diadili dan divonis bebas. Bulan Maret 1949 ia menceraikan Ekbal dan dua bulan kemudian menikah dengan Jihan Raouf. Tahun 1954 Sadat diangkat menjadi menteri penerangan. Dan 1970 diangkat menjadi Presiden Mesir menggantikan Nasser yang meninggal 3 bulan sebelumnya.

                Anwar Sadat memerintah dalam baynag-bayang pendahulunya Gamal Abdul Nasser. Memang Nasser sangat berpengaruh pada waktu itu. Orang-orang pro-Nasser masih sangat kuat dan berdiri dibelakang Wakil Presiden Ali-Sabry. Sadat menyadari betul jika ia inggin kedudukanya tidak goyah dan pemerintahanya bisa kuat, pengaruh Nasser harus dihilangkan atau setidaknya dieliminir. Ia singkirkan para penentang, merekrut militer dan birokrat senior dari kalangan atas. Presiden Sadat kemudian membentuk Majelis Nasional dibawah undang-undang yang memberikan wewenang untuk membersihkan lawn-lawanyadan menempatkan Angkatan Bersenjata di bawah perintahnya.


                Sadat juga melanjutkan persahabatan dengan Uni Soviet yang sudah dirintis Nasser. Tapi itu hanya taktik saja. Sebab ia melakukan tindakan yang mengejutkan dengan mengusir ribuan warga Uni Soviet yang dulu diundang Nasser untuk membantu melawan Israel. Sedikit demi sedikit Sadat mengubah ekonomi Mesir yang berwajah sosialis warisan Nasser dengan sedikit lebih kapitalis. Dua bulan setelah berkuasa, ia menghapus penyiitaan negara terhadap asset swasta dan menghidupkan kembali perdagangan bebas di terusan Suez. Langkah Sadat cukup mnegagumkan ketika melancarkan perang dengan Israel pada saat moral militernya merosot. Tetapi ia berhasil mengangkat moral mereka sehingga dalamperang pada tahun 1973 itu Mesir berhasil memukul mundur Israel. Dan anwar Sadat pun menjadi pujaan kembali. Tadinya rakyat pesimis dan menganggap perang melawan Israel hanyalah tindakan bunuh diri. Anwar sadat yang oleh Gerald Ford disamakan dengan Mahatma Gandhi itu juga pemuja Gandhi. Tapi ia juga mengagumi pahlawan Turki, Kamal Ataturk dan diktator Jerman, Adolf Hitler. Ia menyukai pemimpin Nazi itu sebagai orang yang berani menantang Inggris. Setelah Nasser datang dan berhasil mendepak Raja Farouk, Sadat diangkat menjadi menteri penerangan. Sekali pun mempunyai hubungan dekat dengan Nasser, ternyata Sadat menempuh jalanya sendiri, tidak hanya mengatasi konflik Arab-Israel, tetapi juga pembangunan Mesir sebagai negara Arab modern.(50-t-p)

Selasa, 17 Maret 2015

Mahmoud Ahmadinejad

                
doc.istimewa
Mahmoud Ahmadinejad. Ia adalah satu dari sekian banyak presiden yang punya nyali menantang keangkuhan George Walker Bush. Dia tidak gentar terhadap tekanan AS agar menghentikan program nuklirnya. Bahkan Ahmadinejad menyatakan dengan berani bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan untuk memenuhi kebutuhan listrik iran.

                Ahmadinejad pun juga berani menggertak Israel untuk menyingkir dari wilayah Timur Tengah. Kutipan pernyataanya dalam sebuah pertemuan di hadapan para mahasiswa pada 26 Oktober 2005 dari penyataan Ayatollah Khomeini yang menyerukan agar Israel “dihapus dari peta dunia” memicu kontroversi. Gertakan penguasa Iran tersebut tentu membuat gerah pemerintah AS dan negara-negara Eropa Barat pro-Israel. Yang tak kalah heboh adalah gugatannya mengenai sejarah kelam pembantaian Nazi Jerman terhadap etnik Yahudi menjelang Perang Dunia II.

                Tetapi Ahmadinejad pun tak lepas dari caci-maki. Oleh sekelompok orang yang anti-Ahmadinejad ia dipandang tak lebih hanyalah sebagai seorang provokator, gatal perang, dan gila pujian. Ada pula yang menilainya sebagai buldoser, akalnya kolot, dan tak mengenal etika pergaulan.

                Bukanlah suatu kebetulan jika Ahmadinejad menyandang beberapa hal yang kontradiksi. Ia adalah seorang dosen yang bergelar doctor. Namun ia juga konservatif yang fanatik dan terdidik di bawah bimbingan Iman Khomeini. Ia memadukan nilai-nilai klasik dan kontemporer. Ia memadukan keluwesan yang sudah menjadu cirri khas diplomator Iran sepanjang sejarah. Namun, pada waktu yang sama ia tampak sebagai kepribadian yang sangat tegas dan keras, khususnya pada urusan yang berhubungan dengan ideologi, kehormatan, atau apa yang disebut dengan “ego Iran”. Dalam dirinya tertanam nilai-nilai peradaban yang telah ada sejak 5.000 tahun dan kebesaran bangsa yang jarang ada tandingannya.

                Ahmadinejad merupakan presiden iran pertama yang berasal dari keluarga miskin pedesaan dan tidak memiliki hubungan dengan tokoh agama. Ia berasal dari luar kalangan ulama sejak 24 tahun berdirinya negeri ini. Sebagai anak seorang pandai besi, ia mewujud dalam pandangan masyarakat iran sebagai “putra sejati bangsa” yang jauh dari seragam seorang aristocrat. Dalam pemilu juni 2005, ahmadinejad mengantongi 17.248.782 suara – 61,69 persen dari total pemilih. Sementara lawanya Rafsanjani mendapat 10.043.489 suara atau 35,92 persen.

                Ahmadinejad dilahirkan 28 oktober 1956dalam keluarga yang taat beragamadi desa pertanian Aradan, dekat Gramsar, 100 km dari Teheran. Ia adalah putra seoranf pandai (tukang tempa) besi. Keluarganya pindah ke Teheran ketika usianya satu tahun. Ia menimba ilmu pada tingkat dasar di sekolah agama di Teheran. Kemudian ia melanjutkan ke perguruan tinggi pada jurusan teknik di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) di Teheran. Ia memilih jurusan dalam bidang teknik bangaunan dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Hal ini mendorong dirinya untuk melanjutkan pada jenjang S2 di universitas yang sama, hingga dapat menyelesaikannya dan meraih gelar doktor dalam bidang teknik bangunan. Kemudian ia menjadi salah satu dosen di universitas tersebut.

                Aktivitas politiknya dimulai dengan bergabung dalam aksi revolusi ketika masih belajar di perguruan tinggi. Ia pernah bergabung dalam Persatuan Insinyur Muslim (Islamic Society of Engineers) juga menjadi salah satu anggota ketua perwakilan Universita Sains dan Teknologi Iran (IUST) untuk perkumpulan mahasiswa. Ahmadinejad pernah bergabung dalam Garda Revolusi Islam Iran dan ikut dalam barisan mereka pada saat perang Irak-Iran. Dia berhasil mendapatkan gelar Fidai (Janibaz) dan menjadi anggota perkumpulan fidai revolusi (Janibazan). Kemudian Mustafa Muin, Menteri Kebudayaan dan Perguruan Tinggi dalam Kabinet Rafsanjani memilihnya menjadi penasehat pribadi. Karir politiknya meningkat ketika Presiden Hashemi Rafsanjani mengangkatnya menjadi sebagai bupati kota Ardabil, provinsi Azerbaijan Timur. Ia terus menjabat sebgai bupati kota tersebut sampai emilihan anggota dewan pada pemilu terkahir, ketika anggota radikal mendominasi perolehan suara. Setelah itu Dewan Islam Wilayah Teheran memilih dirinya sebgai Gubernur Teheran.

                Sejak menjabat sebagai gubernur Teheran pada akhir tahun 90-an, Ahmadinejad memfokuskan agenda utamanya dengan bertolak pada ajaran dan pemikiran Imam Khomeini. Ia mewajibkan seluruh wanita Iran berbusa muslim di tempat-tempat umum, memastikan adanya pemisah antara perempuan dan laki-laki di sarana transportasi umum, lift, atau kantor-kantor pemerintahan. Tayangan iklan yang mneyelipkan pesan-pesan tak bermoral juga dilarang.

                Ahmadinejad mulai membangun basis massanya ketika menjadi Walikota Teheran dengan merekrut sejumlah tenaga muda di tata laksana pemerintahanya dan sukses mengatasi permasalahan lalulintas di kota yang dihuni 8 juta penduduk Iran. Ia juga mengeluarkan kebijakan memberikan pinjaman tanpa bunga kepada pasangan suani-istri yang baru menikah.


                Tak ada kamus menyerah dala benak Mahmoud Ahmadinejad. Setelah DK PBB resmi menjatuhkan Resolusi Nomor 1747, Presiden Iran itu malah menunjukan keseriusan untuk mengembangkan program nuklir ke fase lebih tinggi. Sehari setelah mengumumkan program nuklirnya siap memproduksi bahan bakar nuklir skala industry, Ahmadinejad menyatakan siap memasang 50.000 mesin sentrifugal. Selain itu, Iran juga bertekad membangun dua reactor nuklir baru. Rencananya, dua reactor baru itu digunakan sebagai pembangkit enrgi listrik. AS memang patut untuk merasa gerah. Departemen Luar Negeri Jerman dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, “sepertinya, Iran benar-benar salah langkah.”(50-T-P)

Senin, 16 Maret 2015

Penyebaran Islam di Indonesia dan Konflik Politik



doc.istimewa
Penulisan tentang penyebaran agama islam di Indonesia pada abad ke-14 sampai 16 biasanya dilakukan oleh para ahli arkeologii dan bahasa yang meneliti berbagai macam teks ajaran islam. Masalah utama yang biasanya dibahas adalah kapan islam pertama kali memperlihatkan dampaknya.
            Islam di jawa menyebar melalui Wali Songo, Sembilan tokoh sakti Islam ini menyiarkan agama menurut tradisi jawa. Ada banyak dongeng mengenai keajaiban yang mereka perlihatkan. Di antara para wali ada yang merupakan tokoh sejarah seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Giri, Sunan Ngampel. Namu ada juga yag hanya legenda dan diragukan apakah mereka memang ada. Dari dongeng para wali itu selalu muncul kenyataan bahwa agama baru ini, islam, lebih unggul sebagai kekuatan magis daripada agama lama (Buddha).

Dari naskah agama islam yang sampai kepada kita dari zaman tersebut terungkap juga bahwa islam yang menyebar ke asia tenggara adalah Islam Sufi yang berorientasi ke mistik. Para sarjana, anatara lain Sidney jones, berpendapat bahwa hanya islam yang berbentuk mistik ini yang dapat menyebar ke Indonesia karena cocok dengan alam rohani masyarakatnya. Para sarjana lain, khususnya Belanda, menunjukan bahwa islam datang ke Indonesia mengintegrasikan banyak kebudayaan setempat. Islam mungkin hanya merupakan cat pada permukaan yang apabila digaruk akan menunjukan wajah Hindu-Budha, dan apabila di  garuk lebih dalam lagi terlihat wajah aslinya, yakni animisme. Semua itu mungkin benar , dan para sarjana itu memberikan banyak keterangan yang berharga mengenai sofat dan struktur ajaran islam di Indonesia. Sarjana antropologi terkenal Clifford Geertz, yang karya klasiknya mengenai agama jawa telah diterjemahkan, melihat tiga lapisan agama di jawa, yakni santri, priayi, dan abnangan, yang jadi judul buku terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Misteri Peralihan Agama

doc.istimewa
            Misteri peralaihan agama di Indonesia dari abad ke-14 sampai 16 belum terpecahkan. Peralihan ini dapat dikatakan berlangsung singkat dan kokoh., sebab sampai kini agama islam, bagaimanapun penghayatanya, adalah doniman di Indonesia. selain itu, sejak Islam tersebar di Indonesia agama memainkan peran politik yang lebih penting daripada sebelumnya. Memang dalam Pararaton dikisahkan tentang para brahmana yang meninggalkan Tunggul Ametung untuk mengakui Ken Arok sebagai raja. Namun bandingkan dengan peristiwa tunggal ini dengan yang dialami oleh Sultan Agung ketika menghadapi para ulama, atau yang lebih tragis lagi Sultan Amangkurat I, yang dikatakan membunuh ribuan ulama untuk menegakkan kekuasaannya.

            Dalam setiap pemberontokan yang dihadapi oleh dinasti Mataram Islam dan ulamanya berperan, seperti dalam pemberontakan Trunojoyo (1678), perang Diponegoro (1825-1830), gerkan ratu adil seperti di Cilegon (1882), ataupun Sarekat Islam yang menjadi bagian pergerakan nasional pada abad ke-20. Dala Perang Aceh, islam dan para ulamanya juga berperan besar.

            Dari uraian ini tampak perlaihan jelas memiliki arti politis dan sosilogis yang dalam. Almarhum H.J Benda dari Yale University, seorang sarjana yang ahli mengenai Asia tenggara dan Indonesia, mengajukan hipotesa bahwa perubahan agama di Indonesia dan Asia Tenggara Daratan terjadi pada zaman yang sama.

Krisis Dewa-Raja

doc.istimewa
            H.J Benda melihat perlaihan agama di Asia tenggara daei Civa-Buddha, atau Buddha menurut istilah jawa,ke Islam pada abad ke 14-16 tidaklah unik. Di daratan Asia Tenggara, kecuali di Malaysia, terjadi pula peralihan agama ke ajaran Buddha Theravada yang disebarkan dari Sri Lanka. Seperti Islam, ajaran Buddha Theravada memiliki cirri yang lebih kerakyatan daripada ajaran agama sebelumnya, yang berkisar pada Brahmanisme, di mana brahma-nya merupakan golongan pendeta yang bertugas melegitimasi konsep dewa-raja. Dengan kata lain, kaum Brahman ini melihat ke atas atau ajran merekan tidak berakar ke bawah, ke rakyat.

            Baik islam maupun Buddha Theravada memiliki konsep yang egalitarian, semua orang adalah sama di mata tuhan, apakah ia raja, priayi, atau wong cilik (rakyat biasa). Para ulama dalam agama islam dan para biarawan (biksu/pongyi) dalam agama Buddha Theravada merupakan tokoh agama. Berlainan dengan kaum Brahman, ulama maupun pongyi mengkritik ataupun sering menunjukan sikap lebih kritis terhadap kewenangan raja. Lebih penting dari ini, ulama dan pongyi hidup di tengah rakyat dan menjadi tokoh di sana sehingga dapt menjadi counter elite terhadap elite politik, yakni para pejabat kerjaan atau golongan priayi.

            Berlainan dengan priayi yang tinggal di keraton atau kota kabupaten, hal yang juga dilakukan kaum Brahman dahulu, para ulama dan  pongyi  lebih dapat menjadi saluran bagi keluhan masyarakat. Seperti telah disebut di atas, banyak pemberontakan yang dipimpin oleh ulama dan pongyi. Pendek kata, menurut H.J Benda, peralihan agama di Asia tTenggara pada abad ke-14-16 memberikan dampak perubahan structural yang sangat penting, sebagai akibat dari krisis agama sebelumnya maupun krisis hubungan antara raja dengan rakyatnya.

            Di daratan Asia Tenggara krisis dewa-raja terefleksi dari runtuhnya Angkor di Kamboja. Di anatara monument peninggalan para dewa-raja di Asia Tenggara, tidak ada yang semegah, seagung, dan semonumental Angkorwat. Angkorwat ini tidak kalah jika dibandingkan dengan monument sejarah lain, seperti bangunan Piramida FIraun di Mesir atau banguna di Iran. Dengan sendirinya pembangunan Angkorwat itu merupakan beban bagi rakyatnya. Tetapi kita tidak mendengar apa-apa tentang keruntuhan Angkotwat. Kemungkinan besar rakyat pergi meninggalkan tempat tersebut karena melarikan diri dari beban penderitaan atau terjadi epidemic.

Posisi Pedalaman

doc.istimewa
            Kalau perubahan agama dari abad ke-14-16 disebabkan oleh dinamika masyarakat terhadap reaksi terhadap beban dari atas, lantas mengapa bukan agama Buddha Therava yang menyebar ke Indonesia dan kepulauan Asia tenggara melainkan Islam? Dalam hal ini semenanjung Malaysia harus dilihat pula sebagai bagian dari semenanjung Asia Tenggara yang menganut Agama Islam, sang tersebar sampai ke Luzon (FIlipina Utara) dan sekitar manila sebelum sepanyol dating.

            Masalah ini timbul justru karena struktur Buddha Theravada dan Islam maupun Katolik-Spanyol yang tersebar Filipina Utara, menurut Benda, tidak banyak berbeda. Jawabanya adalah faktor geografi dan sejarah. Kepulauan Asia Tenggara sangat penting sebagai daerah perdagangan dan dari abad ke-14-16 perdagangan Islam adalah yang unggul.

            Perdagnangan itu berpusat di Gujarat, india, yang jatuh dibawah kekuasaan Islam. Kerajaan Islam ini menyebabkan berdirinya kerajaan maritim di Sumatera Utara, seperti Pidie, Pasai dan kemudian Aceh. Malaka, yang sudah merupakan pelabuhan penting sebelum rajanya masik islam dan bergelar Sultan Malaka, sengaja menarik perdagangan Islam.

            Perlindungan militer dan politis karena ancaman Ayuthia (Siam) maupun Majapahit (jawa) merupakan faktor lain perubahan agama di Malaka. Sejarawan O.W Woters menunjukan alasan konkret mengapa para maharaja Malaka masuk agama Islam, yakni untuk memperkuat kedudukan dangang dan politiknya. Memang, Malaka dibawah para sultannya yang Islam menjadi pelabuhan dan pusat imperium lautan yang terbesar di Asia tenggara sampai 1512, ketika kerajaan maritim ini jatuh ke tangan Portugis.sampai masa itu Malaka menjadi pengganti Sriwijaya dan pendahulu Singapura di zaman modern.

         Penyebaran Islam melalui perdagngan itu, bagi Indonesia, mengungkap masalah lain di samping masalah kerjaan dengan Brahmanisme-nya dan dinamika masyarakat, yakni konflik anatara Negara maritim dan negara agraris-pedalaman. Para sejarawan seperti J.C Van Leur dan Bretman Johannes Otto Schrieke, sudah mengajukan pertentangan atara kedua struktur politis tersebut. Sriwijaya mewakili pola maritim melawan Mataram I di sekitar abad ke-9-10. Kerajaan-kerjaan islam pesisir seperti Demak, Kudus, Tuban, Giri Ngampel mewakili pola maritim. Hal yang serupa juga terjadi antara pesisir utara melawan Mataram II (Senopati Sultan Agung) pada abad ke 16.

            Singkat kata, penyebaran agama Islam ke Indonesia harus dilihat tidak hanya karena konflik sosial antara kerajaan Brahman dengan masyarakatnya, tetapi juga dari sudut persaingan anatara pesisir dan agraris pedalaman, antara kosmopolitanisme dan isolasionalisme. Melalui pola pertentangan ini para sejarwan mencoba menjelaskan perubahan sosial, politik, maupun ekonomi yang terjadi.

Peran Dongeng

doc. istimewa
Bagaimana dengan dongeng Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam? Zaman perlihan agama di mana pun juga selalu kacau, baik itu peralihan ke Islam, ke Katolik, atau ke Protestan. Perubahan ini selalu terkait dengan kisah-kisah ajaib. Yang terakhir ini adalah untuk memperkokoh kepercayaan dan penghayatan agama.

Dalam agama Kristen yang tersebar di Eropa ada banyak  cerita tentang kaum penyebar agama, orang suci, St. Patrick di Irlandia, St. George di Inggris yang membunuh naga, St. Wilibrodus di Nederland, St. Nicolas, atau St. Elizabeth yang melakukan hal-hal ajaib. Banyak di antara orang-orang suci itu, dalam usaha merasionalisasikan agama, kini mulai dikeuarkan dan tidak diakui oleh gereja Katolik-Roma. Kendati demikian usaha ini  banyak menimbulkan protes dari kalangan umat Katolik, hal yang menunjukan bahwa Barat pun terdapat kesukaran untuk menyesuaikan rasio/ilmu dan kepercayaan dan penghayatan. Jadi, tidaklah mengherankan bila penyebaran agama islam di Jawa ada pula kisah-kisah keajaiban Wali Songo.

Agama dan Politik

doc. istimewa
            Ketika menulis teorinya mengenai peralihan agama di Asia Tengga, H.J Benda mengambil contoh peran para biksu dalam melawan pemerintahan Ngo Dien Dhiem di Vietnam selatan, peran para pongyi dalam pemberontakan Saya Sen di Myanmar pada tahun 1930-an, dan peran para ulama dalam pemberontakan di Cilegon (1882) di Indonesia.

Para pemberontak dalam karya H.J Benda itu gagal melawan negara. Sekarang peran agama sebagai jawaban masyarakat terhadap penindasan negara lebih relevan lagi, sebab revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini terbukti dapat menggoncangkan negara totaliter modern di bawah Syah Iran. Demikian pula Polandia, di mana timbul reaksi keras masyarakat disekitar gereja terhadap rezim totaliter modern.

Selama ini cendikiawan selalu mengira penindasan oleh negara dan perluasan campur tangan aparat dalam kehidupan masyarakat tanpa persetujuan masyarakat, yang merupakan gejala hal negara Dunia Ketiga, akan dijawab oleh masyarakat dengan revolusi liberal, sosialis bahkan komuni. Padahal dari dahulu sampai kini jawaban masyarakat bias juga melalui agama. Dengan kata lain, bail pada zaman kolonialmaupun nasional agama dapat menjadi unsure politis. (O-O-H)