Kamis, 19 Maret 2015

Ayatullah Ruhollah Khomeini


Bisa jadi sebelum tahun 1979, tidak seorang pun rakyat Iran menduga akan terjadi pergantian kekuasaan. Bahkan membayangkannyapun tidak. Dalam benak mayoritas, Shah Reza Pahlevi akan berkuasa seumur hidup bagaikan kaisar, turun tahta kalau sudah mangkat. Mungkin juga tidak ada yang membayangkan akan hadir seorang tua yang tampak ringkih, yang sepanjang hidupnya keluar masuk penjara, dan hidup dalam pengasingan mampu mendongkel behkan mampu mengusir sang Raja Diraja itu dari bumi tempat ia lahir.
doc. istimewa

             Ayatollah Ruhollah Khomeini datang dan Shah Reza telah pergi beberapa hari sebelumnya. Itulah hal yang paling membahagiakan bagi Ayatullah pada pagi hari 1 Februari 1979 ketika orang tua itu menginjakan kakinya kembali di tanah kelahiran setelah 15 tahun hidup di tanah pegasingan, sebuah desa kecil di Prancis, bernama Neauphlele Chateau. Perdana Menteri Shapour Baktiar yang sesungguhnya keras kepala, tidak berkutik. Para pejabat tinggi sipil, para Jenderal Angkatan Bersenjata, para petinggi Dinas Rahasia Savak yang terkenal kejam, juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata Khomeini hanya ringkih fisiknya, tetapi jiwa dan semngatnya bukan main kokohnya.

       Kenapa mereka tidak menagkap dan membunuh Khomeini? Tentu hal itu tidak akan mereka lakukan sebab sang pemimpin baru itu, saat menginjakan kaki di bumi Iran berada di tengah-tengah para pendukungnya. Jumlahnya jutaan. Diperkirakan ada sekitar 5 sampai 6 juta rakyat Iran menyambut kedatangan Khomeini di bandara Mehderabad, Teheran. Mereka memenuhi sekitar bandara. Jalan-jalan penuh sesak. Dalam situasi yang demikian itu, tidak mungkin menagnkapa atau membunuh sang Ayatullah. Semua orang dari berbagai macam ideologi, termasuk yang komunis, mengeluh-eluhkan musuh nomer satu Pemerintah Teheran pada waktu itu. Mungkin tidak ada yang tahu pasti mengapa lebih dari 90 persen raktyat Iran saat itu mendukung Khomeinidan memusuhi Shah Reza. Namun seorang tokoh pejuang mengatakan , karena Khomeini bersih, jujur, bermoral tinggi, penuh integritas, dan konsisten melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Shah yang diktator. “dialah satu-satunya Feedayen paling konsisten,” kata seorang pejuang.

               Perlawanan terhadap Shah Reza Pahlevidipicu oleh bebrapa faktor. Pertama pemerintahanya yang represif dengan menindak tegas para pengeritik dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Kedua, ekonomi yang merosot, diawali dengan hancurnya sector pertanian. Iran menjadi pengimpor gandum, beras, jagung dan buah-buahan. Ketiga, dibiarkanya budaya Barat secara leluasa sehingga mendesak kebudayaan Islam.padahal lebih dari 90 persen rakyat Iran memeluk Islam bermahzab Shiah. Keempat, obsesi Shah Reza untuk membangkitkan budaya lama, termasuk menggganti penanggalan Islam dengan penanggalan Cyrus Agung, hal itulah yang  membuat kamu Muslimin sangat kecewa.

                Namun dari semua itu, faktor pertama yang menjadi pemicu paling hebat. Rakyat tidak mau lagi hidup dalam baying-bayang ketakutan. Dalam baying-bayang kekejaman Savak. Maka munculah Ayatullah Khomeini yang memang lahir dari keluarga pejuang. Tidak sedikit pejuang penentang Shah Iran, baik berhaluan kanan, tengah maupun kiri. Namun belum ada yang menandingi Sang Ayatullah dalam hal konsistensi. Suka atau tak suka, orang tidak bisa membantah bahwa ia adalah pengobar revolusi terbesar dalam sejarah Islam, setelah revolusi moral dan ketauhidan yang dilancarkan Rasul Muhammad, di Jazirah Arab. Khomeini, yang selalu tampil tenang dan nyaris tanpa senyum ituadalah merk revolusi Islam. Kehadirannya dalam kanca politik telah mengubah monarki menjadi republik yang berasas Islam. Dari negeri yang selama 40 tahun berbaik-baik dengan Barat menjadi negeri yang sam sekali tidak ramah terhadap Barat.

Khomeini dilahirkan di kota Khomein Tengah, sekitar 180 km dari Teheran pada 17 Mei 1902. Tidak begitu banyak yang bisa diketahui tentang masa kecilnya. Konon ia bungsu dari enam bersaudara, anak Sayed Mustafa Mussavi, yang juga seorang Ayatullah. Ayahnya dibunuh karena menentang dinasti Kajar ketika Khomeini masih berusia Sembilan bulan. Ia kemudian diasuh oleh kakaknya Morteza di Qom, kota yang banyak melahirkan banyak pemimpin agama di Iran. Pada umur 19 tahun Khomeini mulai belajar tentang Agama Islam pada Ayatullah Haeri di Irak. Menjelang usia 30 tahun, Khomeini menikah dengan Ghode-Iran, seorang gadis dari keluarga kaya. Mereka dikaruniai lima orang anak. Ketika dewasa laki-laki berjenggot putih bagaikan kapas dan bersorban hitam ini dikenal sebagai Ayatullah Ruhollah Mussavi Khomeini.

Sejak muda Khomeini memang sudah memiliki obsesi untuk hadirnya sebuah Republik Islam yang bersendikan Al-Quran. Khomeini adalah seorang pemikir Islam. Ia telah menulis lebih dari 20 buku tentang teologi Islam. Selain itu, ia adalah guru dan ulama besar yang telah melahirkan lebih dari seribu pemimpi, yang kemudian menjadi elit di bidang keagamaan dalam yang tersebar di seluruh Iran.

Perlawanan Khomeini terhadap Shah Reza bahkan telah dimulai sejak Reza Shah yakni ayahnya Shah Reza pahlevi berkuasa. Bukunya yang pertama  Kashfol-Asrar, merupakan keritik tajam terhadap Reza Shah yang dianggap memerintah dengan sewenang-wenang. Ia menganggap Reza Shah telah menghancurkan kebudayaan Islam dan menjadi budak asing. Perjuangan menentang pemerintah tidak surut ketika Iran di bawah pemerintahan sang anak, Shah Reza Pahlevi. Penentangan bahkan semakin keras. Tahun 1962 Khomeini berhasil mengorganisasi pemogokan sebagai protes menentang kebijakan pemerintah yang memperbolehkan seorang saksi di siding pengadilan tak perlu disumpah Al-Quran lagi. Setahun kemudian, 1963, tentara Shah membunuh tidak kurang dari seribu demonstran dalam satu hari, Ayatullah Khomeini dipenjara untuk beberapa bulan, kemudian selama delapan bulan menjadi tahanan rumah. Pada bulan November 1964 barulah ia boleh kembali ke Qom.

Ternyata tahanan dan penjara tidak membuat Khomeini surut ke belakang. Ia terus berjuang sampai diasingkan ke Turki, Irak. Terkahir ia mngasingkan diri di Neauphele Chateau sebuah desa kecil di Prancis Selatan. Dari pengasingan itu ia melakukan perlawanan dengan pesan, pidato, ceramah, yang dikasetkan. Umumnya kaset-kaset itu merekam komentar Khomeini tentang kejadian-kejadian di Iran. Dalam pesannya itu ia selalu memihak kepada rakyat dan member semangat kepada mereka untuk melancarkan perlawanna kepada Pemerintah Teheran lebih keras. Dengan kata lain ia menganjurkan untuk melakukan pemberontakan.

Kaset Khomeini merupakan pembawa suara yang terang-terangan menentang Shah dan rezimnya. Sebelumnya memnag banyak oposisi yang menentang Shah, tetapi mereka berjuang secara sembunyi-sembunyi dan tidak berani mengeritik secara langsung. Keberanian Khomeini, mau tiddak mau menyulut keberanian rakyat Iran. Semangat perlawanna semakin tinggi. Apalagi setelah Khomeini menyebut-nyebut “Republi Isalm” yang kemudian disambut dengan antusias rakyat Iran yang notabene lebih dari 90 persen memeluk Islam itu.

Bisa jadi namanya akan selalu dikenang rakyat Iran sebagai pemeluk Islam bemahzab Shiah terbesar dunia. Seperti mereka mengenang Ali Bin Abi Tholib, Husein Bin Ali, serta imam-imam shiah besar lainnya. Khomeini memang seorang pemimpin besar, namun ia bukan seorang nepotism. Itulah salah satu cirri orang yang sangat dibenci keluarga Shah ini. Konon, selama ia berkuasa is tidak pernah menunjukan adanya gejala menjadikan anaknya sebagai putra mahkota, termasuk anaknya Ahmad Khomeini yang sejak muda menjadi orang kepercayaan atau semacam asisten pribadi.


Lepas dari karakter kekuasaan Khomeini pasca-revolusi yang juga mendapat banyak kritik pedas – perannya sebagai seorang pemimpin besar di dunia Islam tidaklah bisa di ingkari. Ayatullah Khomeini talah mencatatkan diri dalam sejarah sebagai orang yang berhasil mendirikan nergara islam. Setelah Rasul Muhammad medapat wahyu di Gua Hira dan medapat mandate kenabian, yang kemudian melahirkan Islam sebagai salah satu agama besar dunia.(50-t-p)