Bisa jadi sebelum tahun 1979, tidak
seorang pun rakyat Iran menduga akan terjadi pergantian kekuasaan. Bahkan membayangkannyapun
tidak. Dalam benak mayoritas, Shah Reza Pahlevi akan berkuasa seumur hidup
bagaikan kaisar, turun tahta kalau sudah mangkat. Mungkin juga tidak ada yang
membayangkan akan hadir seorang tua yang tampak ringkih, yang sepanjang
hidupnya keluar masuk penjara, dan hidup dalam pengasingan mampu mendongkel
behkan mampu mengusir sang Raja Diraja itu dari bumi tempat ia lahir.
![]() |
| doc. istimewa |
Ayatollah
Ruhollah Khomeini datang dan Shah Reza telah pergi beberapa hari sebelumnya. Itulah
hal yang paling membahagiakan bagi Ayatullah pada pagi hari 1 Februari 1979
ketika orang tua itu menginjakan kakinya kembali di tanah kelahiran setelah 15
tahun hidup di tanah pegasingan, sebuah desa kecil di Prancis, bernama
Neauphlele Chateau. Perdana Menteri Shapour Baktiar yang sesungguhnya keras
kepala, tidak berkutik. Para pejabat tinggi sipil, para Jenderal Angkatan
Bersenjata, para petinggi Dinas Rahasia Savak yang terkenal kejam, juga tidak
bisa berbuat apa-apa. Ternyata Khomeini hanya ringkih fisiknya, tetapi jiwa dan
semngatnya bukan main kokohnya.
Kenapa mereka
tidak menagkap dan membunuh Khomeini? Tentu hal itu tidak akan mereka lakukan
sebab sang pemimpin baru itu, saat menginjakan kaki di bumi Iran berada di
tengah-tengah para pendukungnya. Jumlahnya jutaan. Diperkirakan ada sekitar 5
sampai 6 juta rakyat Iran menyambut kedatangan Khomeini di bandara Mehderabad,
Teheran. Mereka memenuhi sekitar bandara. Jalan-jalan penuh sesak. Dalam situasi
yang demikian itu, tidak mungkin menagnkapa atau membunuh sang Ayatullah. Semua
orang dari berbagai macam ideologi, termasuk yang komunis, mengeluh-eluhkan
musuh nomer satu Pemerintah Teheran pada waktu itu. Mungkin tidak ada yang tahu
pasti mengapa lebih dari 90 persen raktyat Iran saat itu mendukung Khomeinidan
memusuhi Shah Reza. Namun seorang tokoh pejuang mengatakan , karena Khomeini
bersih, jujur, bermoral tinggi, penuh integritas, dan konsisten melakukan
perlawanan terhadap kekuasaan Shah yang diktator. “dialah satu-satunya Feedayen
paling konsisten,” kata seorang pejuang.
Perlawanan
terhadap Shah Reza Pahlevidipicu oleh bebrapa faktor. Pertama pemerintahanya
yang represif dengan menindak tegas para pengeritik dan menyingkirkan
lawan-lawan politiknya. Kedua, ekonomi yang merosot, diawali dengan hancurnya sector
pertanian. Iran menjadi pengimpor gandum, beras, jagung dan buah-buahan. Ketiga,
dibiarkanya budaya Barat secara leluasa sehingga mendesak kebudayaan Islam.padahal
lebih dari 90 persen rakyat Iran memeluk Islam bermahzab Shiah. Keempat, obsesi
Shah Reza untuk membangkitkan budaya lama, termasuk menggganti penanggalan
Islam dengan penanggalan Cyrus Agung, hal itulah yang membuat kamu Muslimin sangat kecewa.
Namun dari
semua itu, faktor pertama yang menjadi pemicu paling hebat. Rakyat tidak mau
lagi hidup dalam baying-bayang ketakutan. Dalam baying-bayang kekejaman Savak. Maka
munculah Ayatullah Khomeini yang memang lahir dari keluarga pejuang. Tidak sedikit
pejuang penentang Shah Iran, baik berhaluan kanan, tengah maupun kiri. Namun belum
ada yang menandingi Sang Ayatullah dalam hal konsistensi. Suka atau tak suka,
orang tidak bisa membantah bahwa ia adalah pengobar revolusi terbesar dalam
sejarah Islam, setelah revolusi moral dan ketauhidan yang dilancarkan Rasul
Muhammad, di Jazirah Arab. Khomeini, yang selalu tampil tenang dan nyaris tanpa
senyum ituadalah merk revolusi Islam. Kehadirannya dalam kanca politik telah
mengubah monarki menjadi republik yang berasas Islam. Dari negeri yang selama
40 tahun berbaik-baik dengan Barat menjadi negeri yang sam sekali tidak ramah
terhadap Barat.
Khomeini dilahirkan di kota Khomein
Tengah, sekitar 180 km dari Teheran pada 17 Mei 1902. Tidak begitu banyak yang
bisa diketahui tentang masa kecilnya. Konon ia bungsu dari enam bersaudara,
anak Sayed Mustafa Mussavi, yang juga seorang Ayatullah. Ayahnya dibunuh karena
menentang dinasti Kajar ketika Khomeini masih berusia Sembilan bulan. Ia kemudian
diasuh oleh kakaknya Morteza di Qom, kota yang banyak melahirkan banyak
pemimpin agama di Iran. Pada umur 19 tahun Khomeini mulai belajar tentang Agama
Islam pada Ayatullah Haeri di Irak. Menjelang usia 30 tahun, Khomeini menikah
dengan Ghode-Iran, seorang gadis dari keluarga kaya. Mereka dikaruniai lima
orang anak. Ketika dewasa laki-laki berjenggot putih bagaikan kapas dan
bersorban hitam ini dikenal sebagai Ayatullah Ruhollah Mussavi Khomeini.
Sejak muda Khomeini memang sudah
memiliki obsesi untuk hadirnya sebuah Republik Islam yang bersendikan Al-Quran. Khomeini adalah seorang
pemikir Islam. Ia telah menulis lebih dari 20 buku tentang teologi Islam. Selain
itu, ia adalah guru dan ulama besar yang telah melahirkan lebih dari seribu
pemimpi, yang kemudian menjadi elit di bidang keagamaan dalam yang tersebar di
seluruh Iran.
Perlawanan Khomeini terhadap Shah
Reza bahkan telah dimulai sejak Reza Shah yakni ayahnya Shah Reza pahlevi
berkuasa. Bukunya yang pertama Kashfol-Asrar, merupakan keritik tajam
terhadap Reza Shah yang dianggap memerintah dengan sewenang-wenang. Ia menganggap
Reza Shah telah menghancurkan kebudayaan Islam dan menjadi budak asing. Perjuangan
menentang pemerintah tidak surut ketika Iran di bawah pemerintahan sang anak,
Shah Reza Pahlevi. Penentangan bahkan semakin keras. Tahun 1962 Khomeini
berhasil mengorganisasi pemogokan sebagai protes menentang kebijakan pemerintah
yang memperbolehkan seorang saksi di siding pengadilan tak perlu disumpah Al-Quran lagi. Setahun kemudian, 1963,
tentara Shah membunuh tidak kurang dari seribu demonstran dalam satu hari,
Ayatullah Khomeini dipenjara untuk beberapa bulan, kemudian selama delapan bulan
menjadi tahanan rumah. Pada bulan November 1964 barulah ia boleh kembali ke
Qom.
Ternyata tahanan dan penjara tidak
membuat Khomeini surut ke belakang. Ia terus berjuang sampai diasingkan ke
Turki, Irak. Terkahir ia mngasingkan diri di Neauphele Chateau sebuah desa
kecil di Prancis Selatan. Dari pengasingan itu ia melakukan perlawanan dengan
pesan, pidato, ceramah, yang dikasetkan. Umumnya kaset-kaset itu merekam
komentar Khomeini tentang kejadian-kejadian di Iran. Dalam pesannya itu ia
selalu memihak kepada rakyat dan member semangat kepada mereka untuk
melancarkan perlawanna kepada Pemerintah Teheran lebih keras. Dengan kata lain
ia menganjurkan untuk melakukan pemberontakan.
Kaset Khomeini merupakan pembawa
suara yang terang-terangan menentang Shah dan rezimnya. Sebelumnya memnag
banyak oposisi yang menentang Shah, tetapi mereka berjuang secara sembunyi-sembunyi
dan tidak berani mengeritik secara langsung. Keberanian Khomeini, mau tiddak
mau menyulut keberanian rakyat Iran. Semangat perlawanna semakin tinggi. Apalagi
setelah Khomeini menyebut-nyebut “Republi Isalm” yang kemudian disambut dengan
antusias rakyat Iran yang notabene lebih dari 90 persen memeluk Islam itu.
Bisa jadi namanya akan selalu
dikenang rakyat Iran sebagai pemeluk Islam bemahzab Shiah terbesar dunia. Seperti
mereka mengenang Ali Bin Abi Tholib, Husein Bin Ali, serta imam-imam shiah
besar lainnya. Khomeini memang seorang pemimpin besar, namun ia bukan seorang nepotism.
Itulah salah satu cirri orang yang sangat dibenci keluarga Shah ini. Konon,
selama ia berkuasa is tidak pernah menunjukan adanya gejala menjadikan anaknya
sebagai putra mahkota, termasuk anaknya Ahmad Khomeini yang sejak muda menjadi
orang kepercayaan atau semacam asisten pribadi.
Lepas dari karakter kekuasaan
Khomeini pasca-revolusi yang juga mendapat banyak kritik pedas – perannya sebagai
seorang pemimpin besar di dunia Islam tidaklah bisa di ingkari. Ayatullah
Khomeini talah mencatatkan diri dalam sejarah sebagai orang yang berhasil
mendirikan nergara islam. Setelah Rasul Muhammad medapat wahyu di Gua Hira dan
medapat mandate kenabian, yang kemudian melahirkan Islam sebagai salah satu
agama besar dunia.(50-t-p)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar