Sabtu, 07 Juni 2014

“Wanita dengan Sepatu Hak Tinggi yang Cacat Sebelah”


 
Dulu di ranjang ini..

Wanita bertubuh molek tertidur pulas dengan peluh keluar dari pori keningnya. Prita—aku menyebutnya dengan nama itu, Ia sering kelelahan akibat seharian bekerja di sebuah bar kecil seberang jalan. Karena apartemenku hanya berseberangan dengan tempatnya bekerja, Ia sering menghabiskan malam bersamaku.

Seharian Ia menyangga penat di atas pundak kecilnya. Suara sepatu hak tinggi yang dipakai seringkali terdengar olehku menaiki tangga. Walau terkadang suara ketukan sepatunya terdengar aneh. Aku bisa menebak, setelahnya Ia akan membuka pintu dengan kunci yang sengaja ku duplikatkan untuknya dan aku cepat-cepat menyeduh teh panas untuk kita minum berdua sambil bercengkerama. Ia selalu duduk di ujung ranjang sebelah kanan. Tak jarang aku terlihat seperti orangtuanya yang siap mendengarkan cerita anaknya tentang pelajaran di sekolah. Aku  mendengarkan cerita tentang segala macam hal yang Ia lakukan setiap hari di tempatnya bekerja. Tentang rekan kerja yang kelebihan berat badan, tentang pelanggan yang sering menggoda dengan mengajaknya makan malam di restoran mahal juga tentang pemilik bar yang sering mengintip isi dalam roknya sewaktu Ia menundukkan punggungnya.


Aku juga hafal dengan kebiasaannya; melepas kemeja, mengusap keringat di tengkuk kemudian berkata, “Sayang, kaki ku pegal”. Kata-kata itu selalu mebuatku kecil di depannya. Bukan tentang kaki yang pegal, tapi karena sepatu hak tinggi miliknya sudah rusak. Hak sebelah kiri pernah hampir patah, kemudian aku mengelemnya dibagian pinggir hak sepatunya. Sepatu dengan hak yang cacat sebelah, membuat kakinya selalu pegal. harusnya aku memberikan uang, membelikannya sepatu baru, namun aku hanya bisa menimpali kata-katanya; “Sabar ya sayang. Setelah ini aku pijit kakimu. Mandi dulu supaya badanmu segar”

Ia tertidur dengan pulas dalam pelukan. Keesokkan harinya, tubuh itu pergi meninggalkan aroma kenangan dan kadang dengan sisa-sisa percumbuan semalam. Aku cukup menyibakkan gordin jendela dan mengintip ke arah bar di seberang jalan agar bisa melihatnya. Ia sudah berada disana, mondar-mandir membawa nampan dengan rok mini hitam diatas lutut dan mengenakan  kemeja putih dengan kancing atas terbuka hingga terlihat jelas belahan dadanya. Namun, sejauh mataku memandang, Ia selalu terlihat baik-baik saja. Hal itu cukup membuatku lega.


***
“Sayang, nanti malam aku pulang agak telat. Kamu bisa makan di luar, tidak perlu menungguku pulang”

Sebelum aku bertanya kenapa, Ia susah bergegas menyandang jaket dan tas jinjingnya, mengecup bibirku lalu pergi tergesa-gesa. Kali ini aku tak sempat mengintipnya lewat jendela, karena kawanku sudah menungguku di bawah tangga. 

“Aku juga pulang telat. Ada rapat kecil kawan-kawan redaksi di—-kantor ”. Sebelum aku selesai berkata, Ia telah pergi sambil menutup pintu kamar. Ketukan sepatu hak tinggi yang terdengar aneh itu, dengan cepat dan tegas menuruni tangga.

Begitulah kita menghabiskan waktu berdua. Di luar sana orang tak pernah tahu, bagaimana kita. Aku sibuk dengan berita-beritaku. Menjadi wartawan lepas selalu tak pernah dapat gaji yang memuaskan. Sekali mendapat berita hebat, kami bagi rata dengan wartawan lainnya. Mungkin secangkir kopi cukup untuk sebuah berita besar yang ku bagi dengan mereka. Lalu honornya masih sama saja. Berita besar atau bukan tak ada bedanya, toh aku mendapat honor yang sama.

Karena itu, impianku semakin susah ku dapat. Benar adanya jika Prita tak bisa dibilang kekasihku, juga kawanku. Namun, aku seperti punya tanggung jawab besar atas dirinya. Mengajak Prita pergi dari sini. Memberikannya rumah dengan taman bunga yang indah mengelilinginya. Memberikan Ia kartu kredit dengan jutaan uang di dalamnya, agar Ia bisa belanja apapun yang Ia suka—juga membeli rok panjang agar tak terlihat pantatnya ketika ia menundukkan punggungnya. Membawa Prita hidup dengan kebahagiaan tanpa harus berkutat di dalam bar kecil yang menyebalkan itu. Kenyataannya, honorku hanya cukup untuk membeli makan beberapa hari saja, sambil sesekali membelikan bir untuk merayakan akhir pekan dengannya.

***

Malam ini, seharusnya tak ada perayaan untuk kita berdua. Namun, setelah aku sampai rumah kudapati Ia menyiapkan banyak sekali makanan cepat saji, bir, minuman kaleng, dan berbungkus-bungkus camilan.

“Ini perayaan untuk apa?. Bukankah kamu belum gajian untuk bulan ini?”

“Aku dapat bonus dari bos. Aku membeli ini untukmu. Ayo makan selagi masih hangat” Ia berkata sambil sibuk menyiapkan mangkuk sup di atas meja.

Kita berdua menikmati perayaan kecil tersebut dengan khidmat. Kita tertawa lepas, melahap makanan dan camilan yang sudah ada. Namun, aku masih tertahan. Ada banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya. Namun, melihatnya bahagia, melihat mata sipitnya ketika tertawa mengurungkan niatku bertanya, walau akhirnya aku tahu ini semua darimana.

Selesai dengan perayaan kecil yang penuh pertanyaan tersebut, kami mengakhirinya dengan singkat. Aku memilih merokok bersandar di sisi ranjang, dan Ia memutuskan untuk tidur dengan cepat, sebab esok pagi Ia sudah harus bekerja seperti biasa.

Selagi Ia tertidur, dengan teliti ku amati setiap gurat wajahnya. Perasaanku campur aduk. Iba melihatnya ketika harus bekerja keras sendirian. Apalagi dengan sepatu hak tinggi yang cacat sebelah. Itu membuatnya tak nyaman dan kesakitan sepanjang hari ketika Ia bekerja. 

Sekarang tubuh itu lemas tak berdaya, pulas di atas ranjang. Jemarinya yang lentik seakan takluk pada tulang-tulang tangan yang menopangnya, menyandarkannya pada bantal kapuk yang lembut. Ia terkulai di atas bantal yang dipakainya menadahi wajah. Bibirnya tak pernah terkatup sewaktu Ia tidur. Rongga mungil itu selalu mengeluarkan napas hangat yang menyapu butir debu halus yang di keluarkan kapuk diatas bantal yang dipakainya. Aroma yang dikeluarkan tiap harinya berubah-ubah. Kadang aroma sirup melon, tak jarang juga aroma minuman kaleng rasa nanas keluar pelan dari rongga mulutnya. Aku bahkan sampai bisa menebak sepiring mie goreng pasti telah Ia kunyah habis sebelumnya. Hari ini, aroma itu bercampur aduk dari aroma sup, bir dan cemilan yang kita makan sebelumnya. Aroma-aroma itu selalu ku terka sewaktu Ia terlelap.

Tubuh molek Prita membuat tergerak untuk selalu mendekapnya dari belakang. Kumatikan rokok dan pelan-pelan naik ke atas ranjang, mengelus pelan rambut dan mengendus hangat napasnya. Aku tak pernah salah menebak semua hal yang dikunyahnya seharian. Sampai akhirnya tebakanku benar, aroma sebuah mulut besar, berkumis, basah dan berbau busuk keluar dari mulut mungilnya. Tubuh indah itu kugoyangkan dengan kencang lalu aku berontak bertanya tentang apa yang baru saja kucium keluar dari dalam mulutnya. Ia bangun lalu terperanjat. Bola matanya membesar, menatapku dengan penuh kebencian, kemudian secepat kilat tangannya bergerak melayangkan tamparan kencang ke pipi kananku. 

“Jimmy selalu memberiku uang lebih daripada kamu!. Uang ini juga untuk makanmu tolol! Itu sebabnya mengapa aku tak mau menikah denganmu. Urus saja dirimu sendiri!” Ia berkata dengan penuh emosi.
Dadaku sesak. Tubuhku tak bergerak.

Kemudian Ia berdiri memakai kutang untuk menutupi putingnya, mengenakan jaket, menyandang tas jinjing warna coklat lalu Ia bergegas pergi sambil mengumpat terus-terusan.

Debu-debu masih memenuhi ruang. Semua berlangsung cepat. Aku diam dengan tubuhnya yang kemudian hilang. Ketukan sepatu hak tinggi miliknya terdengar menuruni tangga—suaranya tak lagi terdengar aneh seperti biasa. Malam ini, pertengkaran kami membuat semua berubah. Aku tak lagi mengintipnya dari balik gordin jendela kamar. Ia juga tak pernah lagi datang tertidur pulas di atas ranjang.


Dulu, di ranjang ini..

Tergolek tubuh wanita yang menjadi harapanku untuk masa depan. Yang bakal menjadi istriku dengan sah dan melahirkan banyak anak. Meskipun aku tahu, selama ini kita tak pernah sepakat untuk memutuskan kita  kawan atau lebih dari sekedar kawan. Aku tak peduli Ia siapa—pelayan bar, wanita dengan sepatu hak tinggi yang cacat sebelah. Seharusnya, aku lebih tidak peduli kalaupun Ia wanita simpanan Jimmy—lekaki bau dan berkumis, pemilik bar tempatnya bekerja.

Media Massa—tentang Masa dan Propaganda



Herbert Marshall McLuhan dalam bukunya “Medium Is The Message” mengenai media massa perihal apapun bentuk dan isinya mampu mempengaruhi individu maupun masyarakat.
Harold Adams Innis menyatakan bahwa peradaban dan sejarah ditentukan oleh media yang menonjol pada masanya.

Komunikasi sebuah media penyampain pesan antar manusia. Menempatkan komunikasi sebagai pilar penting dalam kehidupan masyarakat berangkat dari berbagai fakta menarik. Komunikasi melibatkan hubungan antara pengirim pesan (komunikator) dengan menggunakan saluran perantara (media) tertentu dengan penerima pesan (komunikan). Hubungan keteraturan antara komunikan dengan medianya tidak lain untuk memunculkan feedback dari komunikan. Sasaran komunikasi adalah manusia yang dimana selalu berada pada lingkup golongan ataupun massa. Berbagai ilmu dan teori disajikan untuk mengkaji sistem komunikasi yang mencakup komunikasi informal, personal, juga komunikasi massa.
Sebuah budaya bercakap atau yang biasa disebut retotika, secara tidak langsung membentuk sebuah tatanan komunikasi yang lebih rapi. Lebih rapi disini berarti konsep komunikasi menjadi dipersempit. Seseorang yang memiliki retorika yang baik, komunikasinya dengan masyarakat juga dianggap baik. Perkembangan semacam itu memunculkan istilah komunikasi massa. Lalu pers hadir sebagai wujud media komunikasi sebagian orang yang ditujukan untuk khalayak (massa).
Sasaran utama media massa adalah khalayak, hal ini mengakibatkan berbagai stereotype muncul menyatakan bahwa media adalah salah satu bentuk penggerak aspek-aspek kehidupan sosial. Hal tersebut tidak lepas dari perputaran globalisasi yang menyebut the information age, dimana kebutuhan masyarakat akan informasi sangat meningkat. Sektor penggerakan aspek masyarakat seperti ekonomi dan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi menempatkan media sebagai model kapitalistik. Komunikasi sebagai penghasil informasi menjadi komoditas utama masyarakat, selain itu muncul media-media dalam bentuk penggabungan yang lebih modern, sehingga hal itu sangat berpengaruh besar pada ekonomi dan pasar.
Perkembangan komunikasi pada akhirnya mempengaruhi pola media hingga terjadi perdebatan tentang moral ethics media. Perdebatan tersebut mempersalahkan kebutuhan mempertahankan keberadaan industri media serta fungsi media sebagai pemberi informasi bagi masyarakat.

Media Cetak
Pada awalnya komunikasi massa di Indonesia lebih berbentuk pada lisan. Hingga munculnya media massa pertama kali di Indonesia diawali dengan diterbitkannya Memories der Nouvelles atas perintah Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1615 yang akhirnya menjabat sebagai Gubernur VOC pada tahun 1619. Meskipun mesin cetak telah ditemukan oleh Johannes Gutenberg di Jerman pada tahun 1440 namun surat kabar ini masih dalam bentuk tulisan tangan.
            Barulah pada tahun 1688 pemerintah belanda mengadakan mesin cetak di Indonesia serta menerbitkan surat kabar cetak untuk pertama kali. Isinya merupakan perjanjian antara pemerintah Belanda dengan Sultan Makasar. Penerbitan surat kabar ini akhirnya menjadi cikal bakal tumbuhnya surat kabar cetak diberbagai daerah.
Di Surakarta diterbitkan surat Bromartani oleh Harteveld & Co menggunakan bahasa Jawa. Di Surabaya terdapat juga surat kabar Soerat Kabar yang diterbitkan oleh penerbit E.Fuhri. Kemudian menyusul daerah-daerah lain seperti Padang, Jakarta dan Semarang mulai menerbitkan sejumlah  surat kabar. Hanya saja surat kabar yang terbit pada masa awal sejarah pers tersebut kebanyakan dikelola kaum kolonial. Di samping itu, surat kabar asing juga beredar di Indonesia yang masih berisikan seputar aktivitas ringan dan pemerintahan yang monoton tentang raja dan sultan di Jawa hingga berita ekonomi dan kriminal. Penerbitan surat kabar dibawah pengawasan Belanda bisa dibilang lancar bahkan hingga pemerintahan Daendels.
Pada sekitar tahun 1900-an Belanda mulai mengijinkan orang Tionghoa mengelola media cetak. Secara tidak langsung, kaum Tionghoa memberi dampak yang baik kepada masyarakat Indonesia.  Dari sana orang Indonesia mulai mengelola surat kabar dan menyuarakan nasionalismenya. Dan pada tahun 1901 Datuk Sultan Marajo bersama adiknya yang bernama Baharudin Sutan Rajo nan Gadang akhirnya menerbitkan dan memimpin sendiri sebuah surat kabar yang diberi nama Warta Berita yang merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang berbahasa Indonesia, dimiliki dan redakturnya orang Indonesia.
Namun, sebuah permasalahan datang ketika Jepang menduduki Indonesia. Jepang mulai mengambil alih kekuasaan atas media cetak di Indonesia dan mengalih fungsikan sebagai alat propaganda. Jepang menggunakan media cetak sebagai alat merealisasakian dengan apa yang disebut mereka Dai Tao Senso atau Perang Asia Timur Raya. Media cetak yang dulunya berdiri sendiri mulai beralih dan bergabung menjadi satu dibawah pengawasan pemerintahan Jepang.

 Radio
Di lain sisi Bataviase Radio Vreniging (BRV) di Batavia hadir sebagai media siaran pertama di Indonesia yang diresmikan pada tanggal 16 Juni 1925. Semenjak peresmian tersebut akhirnya radio mulai berkembang di Indonesia hingga munculah undang-undang terhadap penyiaran radio. Sebuah siaran radio Nederlands Indishe Radio Omroep (NIROM) berhasil mengalihkan perhatian masyarakat dari politik ke kebudayaan dan kesenian. Hingga akhirnya muncul perkumpulan-perkumpulan radio lain yang menyiarkan tentang kesenian seperti Solosche Radio Vereniging (SRV) di Solo kebanyakan menyiarkan cerita wayang dan ketoprak.
Berbeda pada masa pemerintahan Jepang, radio masih dalam fungsi sebagai alat propaganda Jepang. Untuk beberapa alasan secara keseluruhan radio di Indonesia resmi dimatikan oleh pemerintah Jepang. Siaran radio tersebut diambil alih oleh Jepang melalui Hoso Kanri Kyoku. Jepang menggunakan radio sebagai alat penggerak propaganda untuk menaklukkan negara-negara di Asia. Jepang menganggap radio sebagai komunikasi massa paling ampuh pada masa itu.
Pandangan tersebut berdampak pada masyarakat Indonesia. Pada detik-detik proklamasi siaran radio yang dibawahi Jepang masih menyiarkan tentang kemenangan Jepang dan memutar lagu-lagu kebangsaan Jepang padahal Jepang telah menyatakan kekalahannya pada sekutu. Beberapa orang yang berhasil menyusup ke dalam ruang penyiaran akhirnya berhasil menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan siaran tersebut disiarkan berulang-ulang hingga ke Bandung dan daerah lain meskipun pada akhirnya penyiaran tersebut terpaksa dihentikan oleh pemerintah Jepang.
Pasca kemerdekaan, kekuasaan atas siaran radio sepenuhnya berada di tangan Indonesia. Beberapa kendala datang selepas peninggalan Jepang, masyarakat Indonesia belum tahu akan menyiarkan apa. Sampai pada akhirnya beberapa berita didapat dari penyiaran radio tersebut tentang tentara sekutu Netherlands Indie Civil Administration (NICA) yang mulai beroperasi di Indonesia. Berita penting tersebut menjadi penggerak masyarakat Indonesia untuk memulai perubahan besar yaitu menyusun organisasi penyiaran nasional resmi guna mengusir tentara NICA dari tanah air.
 Fungsi radio semakin jelas, bahwa dalam situasi yang demikian, siaran radio merupakan alat yang mutlak diperlukan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk berhubungan dan memberi tuntunan kepada rakyat, apa yang harus dikerjakan. Radio menjadi sumber utama informasi masyarakat Indonesia hingga pada akhirnya terbentuklah penyiaran resmi di Indonesia sebagai RRI pada tanggal 15 september 1945.

Televisi
Siaran televisi pertama kali ditayangkan di Indonesia pada 17 Agustus 1962 tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 17. Pada awal penayangan televisi hanya menyiarkan tentang prosesi upacara peringatan Proklamasi d Istana Negara. Tonggak pertelevisian Indonesia sebenarnya terletak pada perhelatan Asian Games ke IV di Stadion Utama Senayan. Penyiaran Asian Games oleh TVRI mencakup beberapa daerah di nusantara. Penayangan tersebut secara bergilir dimulai sejak tanggal 24 Agustus 1962 dan mampu menjangkau dua puluh tujuh provinsi di Indonesia.
Sebagai satu-satunya stasiun televisi di Indonesia, TVRI yang mampu menjangkau wilayah nusantara hingga pelosok dengan menggunakan satelit komunikasi ruang angkasa kemudian berperan sebagai corong pemerintah kepada rakyat. Bahkan hingga sampai sebelum tahun 1990an, TVRI menjadi single source information bagi masyarakat dan tidak dipungkiri bahwa kemudian timbul upaya media ini dijadikan sebagai media propaganda kekuasaan (tetap menjadi alat propaganda penguasa).

Film
Di Indonesia, film pertamakali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia. Pada masa itu film disebut Gambar Idoep. Film yang pertama kali diputar di Tanah Abang berceritakan tentang Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Selanjutnya muncul film lokal pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng oleh NV Java Film Company. Namun, industri film lokal sendiri baru bisa memproduksi film bersuara sekitar tahun 1931. Perkembangan film di tanah air semakin pesat, dilihat dari menjamurnya industri film lokal di Jakarta, Bandung dan Semarang, ditambah lagi munculnya bioskop yang mampu menarik perhatian masyarakat dengan begitu cepatnya.
Sebuah perkembangan komunikasi massa yang begitu cepat mengakibatkan perputaran bisnis industri film menjadi menjamur pada masanya. Beberapa acara yang melibatkan dunia perfilman mulai muncul hingga mendorong Djamaludin Malik mengenalkan Festival Film Indonesia (FFI) pada 30 Maret-5 April 1955. Fungsi film disini sama halnya media yang lain, menjadi sumber informasi namun lebih bersifat nonformal. Sebuah aspirasi dan kritik sosial disampaikan pada setiap film. Seperti film terbaik FFI pada masanya yang berjudul Jam Malam karya Usmar Ismail mengandung kritik sosial yang sangat tajam mengenai bekas pejuang setelah kemerdekaan.
Di tahun 80-an, produksi film lokal meningkat. Dari 604 di tahun 70-an menjadi 721 judul film. Jumlah aktor, aktris dan penontonpun meningkat pesat. Warkop dan H. Rhoma Irama hadir sebagai film yang selalu dinanti masyarakat. Film Catatan Si Boy dan Lupus bahkan dibuat beberapa kali karena sukses meraih untung. Namun, yang paling menyita banyak perhatian adalah film Pengkhianatan G-30S/PKI. Film ini menempati peringkat atas jika dilihat dari kapasitas penonton.
Beberapa penilaian muncul dari pemikiran masyarakat. Sebuah kenyataan yang disajikan dalam bentuk film, berkenaan dengan film Pengkhianatan G-30S/PKI mampu membentuk pandangan masyarakat tentang PKI. Pergeseran pandangan muncul, bahwa film menjadi propaganda ideologi. Sebagian orang juga berpendapat bahwa film merupakan media komunikasi massa yang menarik. Beberapa kendala juga muncul dalam industri perfilman di Indonesia dengan masuknya acara-acara televisi dari luar negeri. Beberapa bioskop bahkan secara runtut menyiarkan acara fim produksi Bollywood saja pada beberapa periode tertentu. Hal tersebut meresahkan sebagian pemilik industri film lokal. Sebuah penilaian yang berhubungan dengan ideologi juga menjadi masalah pelik disana. Masyarakat Indonesia mulai mengenal dunia luar melalui beberapa film impor tersebut.
Perkembangan sinematrogafi mungkin akan berdampak besar dalam masyarakat, mulai dari lahirnya film, bioskop, DVD hingga layar televisi. Beberapa aktor mulai beralih ke dalam layar televisi. Beberapa ketimpangan antara sektor ekonomi dan sosial akan terlihat jelas disini. Akibatnya terbentuklah kaidah, aturan dan kebijakan perfilman di Indonesia. Berangkat dari kesadaran bahwa film juga merupakan media massa paling berpengaruh untuk masyarakat, oleh sebab itu akhirnya muncul pembakuan kaidah-kaidah perfilman di Indonesia. 

Internet
Pada sekitar tahun 1980-an perkembangan internet mulai memasuki Indonesia melalui mahasiswa-mahasiswa lokal yang belajar di luar negeri. Mereka mulai menciptakan jaringan komunikasi antar mahasiswa. Pada jaringan komunikasi tersebut mereka banyak membicarakan isu-isu politik dan sebagian orang saling bertukar ide tentang Indonesia dilihat dari sudut pandang luar negeri.
Kondisi politik Indonesia yang bergejolak pada era Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto yang otoriter mengakibatkan pengangkatan isu-isu sosial politik melalui media massa dianggap tabu dan sangat terlarang. Soeharto banyak  membredel berbagai media cetak yang berisi tentang isu-isu politik dan hal itu secara tidak langsung mampu mempersempit gerak beberapa orang yang akan melakukan pergerakan dan perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto. Disini peran Internet sangat jelas, apalagi semenjak terciptanya sebuah mailing list dari mahasiswa-mahasiswa luar negeri. Pada mulanya mailing list tersebut hanya sebagai sarana komunikasi antar mahasiswa, selanjutnya beralih fungsi menjadi sebuah ajang mendiskusikan isu-isu sosial politik di Indonesia, berbagai berita akhirnya masuk secara “diam-diam”.
Tidak dapat dipungkiri, peran mahasiswa yang belajar di luar negeri sangat berpengaruh besar pada perkembangan internet di Indonesia. Internet berubah menjadi media massa paling aman ketika masa itu. Pengawasan terhadap internet dilakukan oleh pemerintahan Soeharto, namun dengan berbagai jaringan komunikasi antar mahasiswa, berita-berita mampu masuk dengan mudahnya. Internet sebagai media massa yang aksesnya sangat mudah. sebuah masalah besar disini, bahwa di Indonesia sendiri mahasiswa masih kesusahan dalam mendapat jaringan internet kecuali dalam lingkup perkuliahan. Hingga pada akhirnya berdasarkan beberapa penelitian diciptakannya infrastruktur internet yang lebih memadai.
Beberapa daerah juga mulai membangun fasilitas yang menyediakan jaringan koneksi internet. Pada baru-baru ini internet merupakan rangakaian media yang lengkap dan bebas. Kebebasan penyampaian berita melalui internet bahkan dianggap tak terbatas.

Kebebasan Pers Pasca Reformasi 1998
Berbagai media komunikasi massa yang akhirnya muncul, mengakibatkan pola pikir masyarakat pun berubah. Pola pikir tersebut mengarah pada perubahan dan kebebasan yang nyata. Namun, beberapa faktor menjadi kendala perihal kebebasan pers. Kondisi sosial politik Indonesia juga merupakan salah satu faktor tersendatnya kebebasan pers. Hingga seiring perkembangannya, pemerintah mulai menyusun sebuah undang-undang yang mengatur tentang kebebasan pers.
Sebelumnya telah ada beberapa kali penerbitan undang-undang pers seperti Undang-undang No. 11 Tahun 1966 dan Undang-undang No.4 Tahun 1967 lalu pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 yang mengatur tentang kehidupan pers. Beberapa ketentuan hukum juga dikeluarkan pemerintah Indonesia melalui Menteri Penerangan (Menpen). Pemerintah juga menetapkan Ketentuan Surat Ijin Perusahaan Pers (SIUPP) yang berisikan tentang wewenang Menpen terhadap kebebasan pers. Pada dasarnya ketentuan yang dimuat dalam undang-undang sebelumnya malah memberatkan pihak pers, hingga akhirnya SIUPP mengambil peran penting dalam aktivitas pembredelan. SIUPP menjadi peran utama sebagai tonggak awal ketentuan kebebasan pers di Indonesia.
Pergeseran pemerintahan mengakibatkan kebebasan pers makin nyata. Demokrasi yang diusung Orde Baru menempatkan kebebasan pers pada puncaknya. Perombakan dan penataan ulang besar-besaran terjadi pada undang-undang pers oleh Menpen. Ketentuan pers yang dianggap membelenggu pers kemudian dicabut, seperti; (1) Permenpen No.01/Per/Menpen/1984 Tentang Ketentuan-Ketentuan SIUP; dan (2) SK. Menpen No.214A/Kep/Menpen/1984 Tentang Prosedur dan Persyaratan Untuk Mendapatkan SIUPP.
Perombakan tersebut secara tidak langsung membuka peluang bagi masyarakat untuk mempergunkan pers dengan sebagaimana mestinya. Pers menjadi sebuah alat untuk menunjukkan demokrasi secara nyata. Departemen Penerangan telah mengeluarkan 852 SIUPP baru, dan sampai dengan akhir tahun 2001 penerbitan pers di Indonesia diperkirakan sudah mencapai 1800 - 2000. Akibat perombakan kebebasan pers, akhirnya penerbitan pers mulai meluas dan tidak hanya terpusat di ibukota.
Barulah setelah reformasi pada tahun 1999 diterbitkan undang-undang kebebasan pers. Disebutkan disini bahwasanya kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara serta pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran. Hal ini pun menjadi tonggak awal kebebasan pers seutuhnya dengan adanya jaminan kemerdekaan pers seperti mempunyai hak mencari, memperoleh hingga menyebarluaskan gagasan dan informasi.
Di samping itu selain semakin berkembanganya media cetak, radio televisi serta dunia perfilman, portal-portal berita online pun semakin banyak bermunculan. Portal berita online menjadi sebuah wadah informasi instan yang sangat diminati oleh masyarakat. Sebuah sumbangan penting pada dunia komunikasi, melalui berita online sangat mudah mendapatkan informasi. Media massa menjadi sektor penggerak utama aspek-aspek kehidupan masyarakat. Media menjadi pilar penting dalam terbentuknya sebuah pemerintahan—sebuah kekuasaan dan juga pemegang kendali paling kuat atas kekuasaan ideologi masyarakat. 


Hengki Afrinata
gambar dok Istimewa

referensi
Sudibyo, Agus.2009. Kebebasan Semu: Penjajahan Baru di Jagat Media. Jakarta: PT KOmpas Media Nusantara. 
Dari berbagai sumber







Alunan Blues di Masa Lalu


Entah bagaimana awalnya, aku seperti manusia yang dilahirkan di sebuah kota kuno tak berpenghuni. Pakaian yang kukenakan pun aneh. Aku malah terlihat seperti sherrif dengan celana jeans dan jaket kulit warna coklat lalu pisau lipat terselip pada saku kecil sepatu boat ku. Aku juga lupa bagaimana aku sampai datang pada seorang cenayang dan mengabarkan bahwa adalah hidup seorang pria dengan bulu halus di janggutnya dengan jidat lebar yang akan menjadi suamiku kelak. Namun Ia juga mengabarkan bahwa calon suami kelak, ruhnya masih dijerat oleh sumpah-sumpah masa lalunya. Sudah barang tentu, tugasku membantu pengampunan dosanya dan membersihkannya dari 
cerita-cerita masa lalu kelamnya. Seperti tersihir oleh mantra-mantra jahat, aku lari kelabakan mencari dimana pria berjidat lebar itu. hingga pada akhirnya aku bisa menemukannya. Sesuai dengan petunjuk cenayang, pria dengan bulu halus dan jidat lebar. Langsung seketika itu kuseret paksa dia ikut denganku sewaktu malam hujan. Kuikat kedua tangannya dan jadilah dia tawanan masa laluku.

Lalu, apa bedanya masa lalu dan sekarang? Bukankah keduanya tak bisa menghidupkan jiwa manusia  lagi? Aku datang hanya untuk membantunya mengingat, bahwa jiwa yang ada dalam dirinya sudah mati dan hancur oleh masa lalu. Dan aku tak ingin pria itu datang ke masa depan dengan susah payah memboyong sampah-sampah masa lalu itu. Beberapa memoar tentangnya, ku usik kembali. Aku menggali lagi cerita-cerita percintaan dia di masa lalu lewat beberapa sahabat karibnya. Aku bertanya perihal kehidupan di masa lalu, dengan utang-piutangnya di bar dan klub malam pinggiran kota bahkan aku sampai mendapatkan nota-nota dukun pijat aborsi yang dia lakukan dengan beberapa gadis. Ribuan kata melesat cepat dari bibir tipisnya tiap kali kutanyakan ini kepadanya. Bukan hanya mengelak, dia bahkan mengaku tak bisa mengingat itu semua. Tiap kata yang terucap, menyimpan banyak tanda tanya atas semua masa lalu yang merenggut semua jiwa dan ruh dalam dirinya. Bahkan sekarang dia malah seperti asap yang beterbangan tak tentu arah. Didepanku, dia terlihat seperti gembala yang tak pernah mendapatkan pengampunan dalam bahtera Nuh, Yesuh dan Allah. Aku ingin mulutnya sendiri yang mengucap sumpah menelan semua kebahagiaan masa depanku hanya untuk menebus kesalahan di masa lalunya.

Aku melihat dia terduduk lemas dengan kedua tangan terikat. Kelopak mata yang layu serta alis tebal mencuri pandanganku. Keringat mengucur lewat garis-garis halus bulu janggut serta alisnya. Aku datang menghampiri, mengelap pelan butir-butir keringat yang jatuh dari ujung alisnya.

“Apa yang kau kerjakan dimasa lalu?” aku mulai bertanya. Kuhisap pelan sebatang rokok, tangan kiriku sibuk memainkan kalung manik-manik yang menggantung di leher.

“K—aauu siapaa?” dengan pelan pria itu menjawab.

“Kau pernah mendengar syair lagu pop yang sering kau dendangkan bersama kawanmu? Ini sedikit mirip dengan syair lagu pop semacam itu. Aku manusia masa depan. Aku datang mendahuluimu, sebelum kau datang ke masaku, aku ingin kau bersih dari segala macam urusan masa lalumu.”
“Bahkan aku tak suka lagu pop!”

Aku terhenyak mendengar jawabannya, kemudian aku berdiri sambil jalan berputar disamping kanannya lalu tertawa lebar-lebar. Aku raih gelas kaca berisi air putih, lalu kuminumkan pelan-pelan kemulutnya.
“Aku tahu kau suka blues.” sambil bergumam pelan disamping telinganya, aku menyungging senyum simpul lalu kulangkahkan kakiku menjauh darinya. Dia meronta memintaku melepas tali yang mengikat tangannya. Aku pura-pura saja tak mendengar teriakkannya. Kuanggap saja hanya seperti suara cicit burung gereja yang sedang sibuk membuat sarang, juga seperti suara anak babi menguik-nguik minta makan.

Pria itu menjadi tawananku. Aku sudah tak acuh lagi dengan ocehan tetanggaku atas semua kelakuanku yang aneh. Aku suka membawanya keluar rumah duduk ditaman masih dalam keadaan tangan terikat kuat, aku mengajaknya main halma kadang juga catur dengan papan catur yang kulukis sendiri. Ibu-ibu muda disamping rumahku sering mengintip dari balik semak taman halaman rumahku, sambil mulutnya bergumam, mereka sudah menganggapku gila. Aku malah tersenyum jika melihatnya tertangkap basah sedang mengintipku bermain halma dengan tawananku—maksutku calon suamiku.

Aku bisa melihat separuh diriku dalam kedua bola matanya. Tak jarang aku memakinya habis-habisan. Mengapa dia tak mati saja dan ditelan oleh dosa-dosa dimasa lalunya? Apa yang aku alami sekarang cuma ketakutan yang berlebihan. Aku tak sudi hidup di masa depan dengan orang-orang licik seperti dia. Licik. Dia mengambil semua kebahagiaan oranglain. Berpikir secara arogan, menganggap dirinya adalah tonggak awal mula kehidupan masa depan yang bahagia. Sudah jelas tertulis pada Injil pada primbon-primbon kuno bahkan pada syiar-syair lagu blues kesukaannya itu bahwa takdir akan menjemput kita pada masa pada masa depan. Bukan saja dia, bahkan aku sudah berencana membunuh semua orang-orang seperti dia!

***

“Tolong keluarkan aku” Ia berkata padaku dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.
Aku tak langsung menyahut. Hening beberapa saat. Hanya terdengar suara detak jam dinding kuno di tembok samping dengan suara jariku mengetuk-ketuk meja kayu dengan botol bir. “Aku butuh kau disini. Aku tak suka kau pergi sesukamu. Aku tak ingin manusia lain melihatmu dan mulai tertarik padamu”

“Jelaskan kamu siapa?!”

“Sudah berkali kukatakan. Aku manusia masa depan. Kau anggap aku gila heh? Aku Cuma ingin kau ada disini sampai masa pengampunanmu habis. Selanjutnya kau akan tahu sendiri bagaimana masa depanmu setalah melakukan pengampunan itu” kataku sambil menyalakan pemantik.

“Kau menawanku hanya untuk menunggu masa depanmu datang? Masa yang seperti apa?”

Aku menggeser kursiku lebih dekat dengannya. “Masa dimana orang-orang seperti kau musnah. Agar aku bisa hidup tenang. Aku tak suka melihat manusia yang berkutat dengan masa lalu. Kau bagian dari masa depanku. Aku bisa melihat lewat matamu, kau berhutang banyak pada masa lalu. Kehidupanmu akan selalu bergantung pada apa yang telah kau lakukan semasa dulu”

“Apa kesalahanku di masa lalu?”

“Bahkan kau tak mengerti kesalahanmu sendiri”

“Tolong demi Tuhan, jelaskan padaku” suaranya parau. Aku melihat matanya dalam gelap, samar-samar terlihat matanya berkaca-kaca.

“Kau yang akan membantuku melawan takdir. Mungkin kau tak percaya jika aku jelaskan ini padamu. Suka atau tak suka, di masa depan kau adalah suamiku.”

“S-uuuaaa-miii muu?”

“Aku tak suka melihatmu masih berurusan dengan masa lalu, dengan gadis-gadismu dan juga lagu-lagu blues yang sering kali kau dengarkan, apalagi kau calon suamiku di masa depan. Aku hanya ingin membantumu sebelum aku membiarkanmu membusuk disini.  Aku ingin kau menyesal sebelum kau datang di masa depan, setelah kau menjalani pengampunan selanjutnya kau akan menjadi bersih, aku akan mendapatkanmu sebagai orang yang bebas dan tak pernah dijerat oleh masa lalu.”

“Kau terlalu percaya takhayul. Masa laluku baik-baik saja. Aku hidup bahagia dengan kekasihku. Hidup kami berjalan indah dan tak separah yang kau bayangkan. Itu terjadi sebelum kau wanita sinting datang menawanku, parahnya kau mengaku sebagi manusia masa depan, mengaku sebagai calon istriku” nadanya mulai meninggi.

Aku geram mendengar ocehannya. Aku berdiri lalu dengan geram kucengkeram rahangnya sambil berkata “Dengar! Aku tak butuh ocehanmu. Aku hanya butuh kau bersih dalam pengampunan masa lalumu”
Dia hanya diam, sambil matanya menatapku dalam penuh rasa benci. Aku keluar sambil bersungut-sungut.
Sama sekali aku tak suka pria itu. cara berpakaiannya yang aneh, bahkan jidat lebarnya aku tak pernah menyukainya. Namun aku tahu dia adalah pria satu-satunya yang datang dari masa lalu yang memintaku untuk membantu pengampunannya—kata si cenayang tua tempo dulu. Bukannya kami akan hidup bahagia setelah ini? kami akan membangun rumah kecil dengan taman bunga didepannya. Tak hanya itu, kami akan sering menghafal lirik-lirik lagu pop—bukan lagu blues. Aku juga berharap dia adalah satu-satunya manusia yang menjadi budak masa lalu yang masih tersisa.

Aku percaya dewa-dewa akan datang menghampirinya ketika ku ikat tangannya di gudang samping rumah. Dewa itu akan mengabarkan berita baik atas masa depan ku dengannya lalu menghapus ingatan akan masa lalunya. Tak hanya menghapus, Dewa satunya bahkan mencabut ingatannya sampai keakarnya. Aku akan hidup bahagia di masa depan.

“Lepaskan aku! Kau wanita jalang! Tak sudi aku menjadi suamimu di masa depan!”

“Diam! Diam atau kubunuh kau sekarang!” teriakku sambil menodongkan pisau kearahnya.

“Bunuh saja agar kau puas! Persetan dengan masa depan! Biarkan aku hidup di masa lalu. Tak butuh pengampunan dan tetek-bengeknya. Kau hanya mementingkan urusanmu di masa depan.”

Dengan geram kutendang kursi kayu didepanku kearahnya. Dia terguling jatuh masih dengan kedua tangan terikat. "hey dengar! Aku butuh kau. Lakukan saja apa yang kuperintahkan”
“Biarkan aku hidup dengan masa laluku!” teriaknya kencang.

Seperti kesetanan aku langsung melempar pisau kearahnya. Pisau itu menancap tepat di dada kirinya. Darah segar keluar, diiringi rintihan kesakitannya. Suara nafasnya tersengal-sengal kemudian dia jatuh terkulai lemas diatas lantai. Badanku bergetar, pelan-pelan aku mendekati tubuhnya lalu di seka pelan darah yang terciprat ke tangannya.

Lalu tiba-tiba telingaku penuh dengan suara bising. Kemudian berganti suara berdengung sangat kencang. Makin lama dengungannya semakin kencang. Makin kencang. Memekakan telinga. Aku merintih kesakitan, telingaku serasa pecah.
Seketika suara berdengung itu hilang, berganti dengan suara alunan blues samar-samar terdengar. Mataku mengerjap-ngerjap.

Honey welcome back home,i  know she told you.

Honey i know she told you that she loved me.

Much more than i did, but all i know is that she left you.

Suara melengking Janis Joplin lamat-lamat terdengar lewat kupingku. Mataku terus saja mengerjap-ngerjap. Pelan-pelan kubuka mata. Aku melihat banyak orang duduk di kursi-kursi kayu menghadap jendela. Pantulan sinar matahari sore terlihat masuk lewat celah-celah jendela diantara kepulan asap tembakau. Mereka duduk sambil memegang cangkir-cangkir kecil, yang lainnya terlihat membawa nampan berisi gelas-gelas berisi bir, lalu seorang pria berjidat lebar memakai ikat kepala sambil menenteng gelas berisi bir berteriak kepadaku.

hey honey let’s singing. Kau baru saja bangun rupanya” katanya sambil tersenyum kepadaku.
Aku masih linglung. Aku melihat sekeliling, tak ada pria yang menjadi tawananku di masa lalu. Aku meraba badanku, aku mengenakan kaos oblong dengan jaket bahan levis warna biru—bukan jaket kulit warna coklat. Ditanganku juga tak ada bercak darah. “Aku baru saja menawan manusia masa lalu” kataku.

Setelah mendengar aku berkata, pria dengan ikat kepala didepanku tertawa lantang sampai gelas berisi bir yang dipegangnya tumpah ruah kebawah mengenai sebagian dari celananya. “Kau mimpi honey. Haha. Kau tertidur lelap sekali sekitar satu jam yang lalu” katanya.

Aku bingung. Terdengar suara musik blues melantun pelan, hiruk pikuk didalam kafe, suara gemerincing gelas-gelas bir disusul gelak tawa seorang pria yang suaranya parau sambil terbatuk-batuk, dan Janis masih terus saja bernyanyi lewat piringan hitam yang berputar disudut kafe.

Come on cry, cry baby, cry baby, cry baby. Oh honey welcome back home.

Don’t you know honey, ain’t nobobdy ever gonna love you, the way i try to do? 

Cerpen           :  Elen Anggun Kusuma
Ilustrasi          :  hengki Afrinata