Dulu di
ranjang ini..
Wanita bertubuh
molek tertidur pulas dengan peluh keluar dari pori keningnya. Prita—aku
menyebutnya dengan nama itu, Ia sering kelelahan akibat seharian bekerja di
sebuah bar kecil seberang jalan. Karena apartemenku hanya berseberangan dengan
tempatnya bekerja, Ia sering menghabiskan malam bersamaku.
Seharian Ia
menyangga penat di atas pundak kecilnya. Suara sepatu hak tinggi yang dipakai
seringkali terdengar olehku menaiki tangga. Walau terkadang suara ketukan
sepatunya terdengar aneh. Aku bisa menebak, setelahnya Ia akan membuka pintu
dengan kunci yang sengaja ku duplikatkan untuknya dan aku cepat-cepat menyeduh
teh panas untuk kita minum berdua sambil bercengkerama. Ia selalu duduk di ujung
ranjang sebelah kanan. Tak jarang aku terlihat seperti orangtuanya yang siap
mendengarkan cerita anaknya tentang pelajaran di sekolah. Aku mendengarkan cerita tentang segala macam hal yang
Ia lakukan setiap hari di tempatnya bekerja. Tentang rekan kerja yang kelebihan
berat badan, tentang pelanggan yang sering menggoda dengan mengajaknya makan
malam di restoran mahal juga tentang pemilik bar yang sering mengintip isi
dalam roknya sewaktu Ia menundukkan punggungnya.
Aku juga hafal
dengan kebiasaannya; melepas kemeja, mengusap keringat di tengkuk kemudian
berkata, “Sayang, kaki ku pegal”. Kata-kata itu selalu mebuatku kecil di
depannya. Bukan tentang kaki yang pegal, tapi karena sepatu hak tinggi miliknya
sudah rusak. Hak sebelah kiri pernah hampir patah, kemudian aku mengelemnya
dibagian pinggir hak sepatunya. Sepatu dengan hak yang cacat sebelah, membuat
kakinya selalu pegal. harusnya aku memberikan uang, membelikannya sepatu baru,
namun aku hanya bisa menimpali kata-katanya; “Sabar ya sayang. Setelah ini aku
pijit kakimu. Mandi dulu supaya badanmu segar”
Ia tertidur
dengan pulas dalam pelukan. Keesokkan harinya, tubuh itu pergi meninggalkan
aroma kenangan dan kadang dengan sisa-sisa percumbuan semalam. Aku cukup
menyibakkan gordin jendela dan mengintip ke arah bar di seberang jalan agar
bisa melihatnya. Ia sudah berada disana, mondar-mandir membawa nampan dengan
rok mini hitam diatas lutut dan mengenakan
kemeja putih dengan kancing atas terbuka hingga terlihat jelas belahan
dadanya. Namun, sejauh mataku memandang, Ia selalu terlihat baik-baik saja. Hal
itu cukup membuatku lega.
***
“Sayang, nanti
malam aku pulang agak telat. Kamu bisa makan di luar, tidak perlu menungguku
pulang”
Sebelum aku
bertanya kenapa, Ia susah bergegas menyandang jaket dan tas jinjingnya, mengecup
bibirku lalu pergi tergesa-gesa. Kali ini aku tak sempat mengintipnya lewat
jendela, karena kawanku sudah menungguku di bawah tangga.
“Aku juga
pulang telat. Ada rapat kecil kawan-kawan redaksi di—-kantor ”. Sebelum aku
selesai berkata, Ia telah pergi sambil menutup pintu kamar. Ketukan sepatu hak
tinggi yang terdengar aneh itu, dengan cepat dan tegas menuruni tangga.
Begitulah kita
menghabiskan waktu berdua. Di luar sana orang tak pernah tahu, bagaimana kita.
Aku sibuk dengan berita-beritaku. Menjadi wartawan lepas selalu tak pernah
dapat gaji yang memuaskan. Sekali mendapat berita hebat, kami bagi rata dengan
wartawan lainnya. Mungkin secangkir kopi cukup untuk sebuah berita besar yang
ku bagi dengan mereka. Lalu honornya masih sama saja. Berita besar atau bukan
tak ada bedanya, toh aku mendapat honor yang sama.
Karena itu, impianku
semakin susah ku dapat. Benar adanya jika Prita tak bisa dibilang kekasihku,
juga kawanku. Namun, aku seperti punya tanggung jawab besar atas dirinya. Mengajak
Prita pergi dari sini. Memberikannya rumah dengan taman bunga yang indah
mengelilinginya. Memberikan Ia kartu kredit dengan jutaan uang di dalamnya,
agar Ia bisa belanja apapun yang Ia suka—juga membeli rok panjang agar tak
terlihat pantatnya ketika ia menundukkan punggungnya. Membawa Prita hidup
dengan kebahagiaan tanpa harus berkutat di dalam bar kecil yang menyebalkan
itu. Kenyataannya, honorku hanya cukup untuk membeli makan beberapa hari saja,
sambil sesekali membelikan bir untuk merayakan akhir pekan dengannya.
***
Malam ini,
seharusnya tak ada perayaan untuk kita berdua. Namun, setelah aku sampai rumah
kudapati Ia menyiapkan banyak sekali makanan cepat saji, bir, minuman kaleng,
dan berbungkus-bungkus camilan.
“Ini perayaan
untuk apa?. Bukankah kamu belum gajian untuk bulan ini?”
“Aku dapat
bonus dari bos. Aku membeli ini untukmu. Ayo makan selagi masih hangat” Ia
berkata sambil sibuk menyiapkan mangkuk sup di atas meja.
Kita berdua
menikmati perayaan kecil tersebut dengan khidmat. Kita tertawa lepas, melahap
makanan dan camilan yang sudah ada. Namun, aku masih tertahan. Ada banyak
pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya. Namun, melihatnya bahagia, melihat
mata sipitnya ketika tertawa mengurungkan niatku bertanya, walau akhirnya aku
tahu ini semua darimana.
Selesai dengan
perayaan kecil yang penuh pertanyaan tersebut, kami mengakhirinya dengan
singkat. Aku memilih merokok bersandar di sisi ranjang, dan Ia memutuskan untuk
tidur dengan cepat, sebab esok pagi Ia sudah harus bekerja seperti biasa.
Selagi Ia
tertidur, dengan teliti ku amati setiap gurat wajahnya. Perasaanku campur aduk.
Iba melihatnya ketika harus bekerja keras sendirian. Apalagi dengan sepatu hak
tinggi yang cacat sebelah. Itu membuatnya tak nyaman dan kesakitan sepanjang
hari ketika Ia bekerja.
Sekarang tubuh
itu lemas tak berdaya, pulas di atas ranjang. Jemarinya yang lentik seakan
takluk pada tulang-tulang tangan yang menopangnya, menyandarkannya pada bantal
kapuk yang lembut. Ia terkulai di atas bantal yang dipakainya menadahi wajah.
Bibirnya tak pernah terkatup sewaktu Ia tidur. Rongga mungil itu selalu
mengeluarkan napas hangat yang menyapu butir debu halus yang di keluarkan kapuk
diatas bantal yang dipakainya. Aroma yang dikeluarkan tiap harinya
berubah-ubah. Kadang aroma sirup melon, tak jarang juga aroma minuman kaleng
rasa nanas keluar pelan dari rongga mulutnya. Aku bahkan sampai bisa menebak
sepiring mie goreng pasti telah Ia kunyah habis sebelumnya. Hari ini, aroma itu
bercampur aduk dari aroma sup, bir dan cemilan yang kita makan sebelumnya. Aroma-aroma
itu selalu ku terka sewaktu Ia terlelap.
Tubuh molek
Prita membuat tergerak untuk selalu mendekapnya dari belakang. Kumatikan rokok
dan pelan-pelan naik ke atas ranjang, mengelus pelan rambut dan mengendus
hangat napasnya. Aku tak pernah salah menebak semua hal yang dikunyahnya
seharian. Sampai akhirnya tebakanku benar, aroma sebuah mulut besar, berkumis, basah
dan berbau busuk keluar dari mulut mungilnya. Tubuh indah itu kugoyangkan
dengan kencang lalu aku berontak bertanya tentang apa yang baru saja kucium
keluar dari dalam mulutnya. Ia bangun lalu terperanjat. Bola matanya membesar,
menatapku dengan penuh kebencian, kemudian secepat kilat tangannya bergerak melayangkan
tamparan kencang ke pipi kananku.
“Jimmy selalu
memberiku uang lebih daripada kamu!. Uang ini juga untuk makanmu tolol! Itu
sebabnya mengapa aku tak mau menikah denganmu. Urus saja dirimu sendiri!” Ia
berkata dengan penuh emosi.
Dadaku sesak.
Tubuhku tak bergerak.
Kemudian Ia
berdiri memakai kutang untuk menutupi putingnya, mengenakan jaket, menyandang
tas jinjing warna coklat lalu Ia bergegas pergi sambil mengumpat terus-terusan.
Debu-debu
masih memenuhi ruang. Semua berlangsung cepat. Aku diam dengan tubuhnya yang
kemudian hilang. Ketukan sepatu hak tinggi miliknya terdengar menuruni
tangga—suaranya tak lagi terdengar aneh seperti biasa. Malam ini, pertengkaran
kami membuat semua berubah. Aku tak lagi mengintipnya dari balik gordin jendela
kamar. Ia juga tak pernah lagi datang tertidur pulas di atas ranjang.
Dulu, di
ranjang ini..
Tergolek tubuh
wanita yang menjadi harapanku untuk masa depan. Yang bakal menjadi istriku
dengan sah dan melahirkan banyak anak. Meskipun aku tahu, selama ini kita tak
pernah sepakat untuk memutuskan kita
kawan atau lebih dari sekedar kawan. Aku tak peduli Ia siapa—pelayan
bar, wanita dengan sepatu hak tinggi yang cacat sebelah. Seharusnya, aku lebih
tidak peduli kalaupun Ia wanita simpanan Jimmy—lekaki bau dan berkumis, pemilik
bar tempatnya bekerja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar