Entah
bagaimana awalnya, aku seperti manusia yang dilahirkan di sebuah kota kuno tak
berpenghuni. Pakaian yang kukenakan pun aneh. Aku malah terlihat seperti sherrif dengan celana jeans dan jaket kulit warna coklat lalu
pisau lipat terselip pada saku kecil sepatu boat
ku. Aku juga lupa bagaimana aku sampai datang pada seorang cenayang dan
mengabarkan bahwa adalah hidup seorang pria dengan bulu halus di janggutnya
dengan jidat lebar yang akan menjadi suamiku kelak. Namun Ia juga mengabarkan
bahwa calon suami kelak, ruhnya masih dijerat oleh sumpah-sumpah masa lalunya.
Sudah barang tentu, tugasku membantu pengampunan dosanya dan membersihkannya
dari
cerita-cerita masa lalu kelamnya. Seperti tersihir oleh mantra-mantra
jahat, aku lari kelabakan mencari dimana pria berjidat lebar itu. hingga pada
akhirnya aku bisa menemukannya. Sesuai dengan petunjuk cenayang, pria dengan
bulu halus dan jidat lebar. Langsung seketika itu kuseret paksa dia ikut
denganku sewaktu malam hujan. Kuikat kedua tangannya dan jadilah dia tawanan
masa laluku.
Lalu,
apa bedanya masa lalu dan sekarang? Bukankah keduanya tak bisa menghidupkan
jiwa manusia lagi? Aku datang hanya
untuk membantunya mengingat, bahwa jiwa yang ada dalam dirinya sudah mati dan
hancur oleh masa lalu. Dan aku tak ingin pria itu datang ke masa depan dengan
susah payah memboyong sampah-sampah masa lalu itu. Beberapa memoar tentangnya,
ku usik kembali. Aku menggali lagi cerita-cerita percintaan dia di masa lalu
lewat beberapa sahabat karibnya. Aku bertanya perihal kehidupan di masa lalu,
dengan utang-piutangnya di bar dan klub malam pinggiran kota bahkan aku sampai
mendapatkan nota-nota dukun pijat aborsi yang dia lakukan dengan beberapa gadis.
Ribuan kata melesat cepat dari bibir tipisnya tiap kali kutanyakan ini
kepadanya. Bukan hanya mengelak, dia bahkan mengaku tak bisa mengingat itu
semua. Tiap kata yang terucap, menyimpan banyak tanda tanya atas semua masa
lalu yang merenggut semua jiwa dan ruh dalam dirinya. Bahkan sekarang dia malah
seperti asap yang beterbangan tak tentu arah. Didepanku, dia terlihat seperti
gembala yang tak pernah mendapatkan pengampunan dalam bahtera Nuh, Yesuh dan
Allah. Aku ingin mulutnya sendiri yang mengucap sumpah menelan semua
kebahagiaan masa depanku hanya untuk menebus kesalahan di masa lalunya.
Aku
melihat dia terduduk lemas dengan kedua tangan terikat. Kelopak mata yang layu
serta alis tebal mencuri pandanganku. Keringat mengucur lewat garis-garis halus
bulu janggut serta alisnya. Aku datang menghampiri, mengelap pelan butir-butir
keringat yang jatuh dari ujung alisnya.
“Apa
yang kau kerjakan dimasa lalu?” aku mulai bertanya. Kuhisap pelan sebatang
rokok, tangan kiriku sibuk memainkan kalung manik-manik yang menggantung di
leher.
“K—aauu
siapaa?” dengan pelan pria itu menjawab.
“Kau
pernah mendengar syair lagu pop yang sering kau dendangkan bersama kawanmu? Ini
sedikit mirip dengan syair lagu pop semacam itu. Aku manusia masa depan. Aku
datang mendahuluimu, sebelum kau datang ke masaku, aku ingin kau bersih dari
segala macam urusan masa lalumu.”
“Bahkan
aku tak suka lagu pop!”
Aku
terhenyak mendengar jawabannya, kemudian aku berdiri sambil jalan berputar
disamping kanannya lalu tertawa lebar-lebar. Aku raih gelas kaca berisi air
putih, lalu kuminumkan pelan-pelan kemulutnya.
“Aku
tahu kau suka blues.” sambil bergumam
pelan disamping telinganya, aku menyungging senyum simpul lalu kulangkahkan
kakiku menjauh darinya. Dia meronta memintaku melepas tali yang mengikat
tangannya. Aku pura-pura saja tak mendengar teriakkannya. Kuanggap saja hanya
seperti suara cicit burung gereja yang sedang sibuk membuat sarang, juga
seperti suara anak babi menguik-nguik minta makan.
Pria
itu menjadi tawananku. Aku sudah tak acuh lagi dengan ocehan tetanggaku atas
semua kelakuanku yang aneh. Aku suka membawanya keluar rumah duduk ditaman
masih dalam keadaan tangan terikat kuat, aku mengajaknya main halma kadang juga
catur dengan papan catur yang kulukis sendiri. Ibu-ibu muda disamping rumahku
sering mengintip dari balik semak taman halaman rumahku, sambil mulutnya
bergumam, mereka sudah menganggapku gila. Aku malah tersenyum jika melihatnya
tertangkap basah sedang mengintipku bermain halma dengan tawananku—maksutku
calon suamiku.
Aku
bisa melihat separuh diriku dalam kedua bola matanya. Tak jarang aku memakinya
habis-habisan. Mengapa dia tak mati saja dan ditelan oleh dosa-dosa dimasa lalunya?
Apa yang aku alami sekarang cuma ketakutan yang berlebihan. Aku tak sudi hidup
di masa depan dengan orang-orang licik seperti dia. Licik. Dia mengambil semua
kebahagiaan oranglain. Berpikir secara arogan, menganggap dirinya adalah tonggak
awal mula kehidupan masa depan yang bahagia. Sudah jelas tertulis pada Injil
pada primbon-primbon kuno bahkan pada syiar-syair lagu blues kesukaannya itu bahwa takdir akan menjemput kita pada masa
pada masa depan. Bukan saja dia, bahkan aku sudah berencana membunuh semua
orang-orang seperti dia!
***
“Tolong
keluarkan aku” Ia berkata padaku dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.
Aku
tak langsung menyahut. Hening beberapa saat. Hanya terdengar suara detak jam
dinding kuno di tembok samping dengan suara jariku mengetuk-ketuk meja kayu
dengan botol bir. “Aku butuh kau disini. Aku tak suka kau pergi sesukamu. Aku
tak ingin manusia lain melihatmu dan mulai tertarik padamu”
“Jelaskan
kamu siapa?!”
“Sudah
berkali kukatakan. Aku manusia masa depan. Kau anggap aku gila heh? Aku Cuma
ingin kau ada disini sampai masa pengampunanmu habis. Selanjutnya kau akan tahu
sendiri bagaimana masa depanmu setalah melakukan pengampunan itu” kataku sambil
menyalakan pemantik.
“Kau
menawanku hanya untuk menunggu masa depanmu datang? Masa yang seperti apa?”
Aku
menggeser kursiku lebih dekat dengannya. “Masa dimana orang-orang seperti kau
musnah. Agar aku bisa hidup tenang. Aku tak suka melihat manusia yang berkutat
dengan masa lalu. Kau bagian dari masa depanku. Aku bisa melihat lewat matamu,
kau berhutang banyak pada masa lalu. Kehidupanmu akan selalu bergantung pada
apa yang telah kau lakukan semasa dulu”
“Apa
kesalahanku di masa lalu?”
“Bahkan
kau tak mengerti kesalahanmu sendiri”
“Tolong
demi Tuhan, jelaskan padaku” suaranya parau. Aku melihat matanya dalam gelap,
samar-samar terlihat matanya berkaca-kaca.
“Kau
yang akan membantuku melawan takdir. Mungkin kau tak percaya jika aku jelaskan
ini padamu. Suka atau tak suka, di masa depan kau adalah suamiku.”
“S-uuuaaa-miii
muu?”
“Aku
tak suka melihatmu masih berurusan dengan masa lalu, dengan gadis-gadismu dan
juga lagu-lagu blues yang sering kali
kau dengarkan, apalagi kau calon suamiku di masa depan. Aku hanya ingin
membantumu sebelum aku membiarkanmu membusuk disini. Aku ingin kau menyesal sebelum kau datang di
masa depan, setelah kau menjalani pengampunan selanjutnya kau akan menjadi
bersih, aku akan mendapatkanmu sebagai orang yang bebas dan tak pernah dijerat
oleh masa lalu.”
“Kau
terlalu percaya takhayul. Masa laluku baik-baik saja. Aku hidup bahagia dengan
kekasihku. Hidup kami berjalan indah dan tak separah yang kau bayangkan. Itu
terjadi sebelum kau wanita sinting datang menawanku, parahnya kau mengaku
sebagi manusia masa depan, mengaku sebagai calon istriku” nadanya mulai
meninggi.
Aku
geram mendengar ocehannya. Aku berdiri lalu dengan geram kucengkeram rahangnya
sambil berkata “Dengar! Aku tak butuh ocehanmu. Aku hanya butuh kau bersih
dalam pengampunan masa lalumu”
Dia
hanya diam, sambil matanya menatapku dalam penuh rasa benci. Aku keluar sambil
bersungut-sungut.
Sama
sekali aku tak suka pria itu. cara berpakaiannya yang aneh, bahkan jidat
lebarnya aku tak pernah menyukainya. Namun aku tahu dia adalah pria satu-satunya
yang datang dari masa lalu yang memintaku untuk membantu pengampunannya—kata si
cenayang tua tempo dulu. Bukannya kami akan hidup bahagia setelah ini? kami
akan membangun rumah kecil dengan taman bunga didepannya. Tak hanya itu, kami
akan sering menghafal lirik-lirik lagu pop—bukan lagu blues. Aku juga berharap dia adalah satu-satunya manusia yang
menjadi budak masa lalu yang masih tersisa.
Aku
percaya dewa-dewa akan datang menghampirinya ketika ku ikat tangannya di gudang
samping rumah. Dewa itu akan mengabarkan berita baik atas masa depan ku dengannya
lalu menghapus ingatan akan masa lalunya. Tak hanya menghapus, Dewa satunya
bahkan mencabut ingatannya sampai keakarnya. Aku akan hidup bahagia di masa
depan.
“Lepaskan
aku! Kau wanita jalang! Tak sudi aku menjadi suamimu di masa depan!”
“Diam!
Diam atau kubunuh kau sekarang!” teriakku sambil menodongkan pisau kearahnya.
“Bunuh
saja agar kau puas! Persetan dengan masa depan! Biarkan aku hidup di masa lalu.
Tak butuh pengampunan dan tetek-bengeknya. Kau hanya mementingkan urusanmu di
masa depan.”
Dengan
geram kutendang kursi kayu didepanku kearahnya. Dia terguling jatuh masih
dengan kedua tangan terikat. "hey dengar! Aku butuh kau. Lakukan saja apa
yang kuperintahkan”
“Biarkan
aku hidup dengan masa laluku!” teriaknya kencang.
Seperti
kesetanan aku langsung melempar pisau kearahnya. Pisau itu menancap tepat di
dada kirinya. Darah segar keluar, diiringi rintihan kesakitannya. Suara
nafasnya tersengal-sengal kemudian dia jatuh terkulai lemas diatas lantai.
Badanku bergetar, pelan-pelan aku mendekati tubuhnya lalu di seka pelan darah
yang terciprat ke tangannya.
Lalu
tiba-tiba telingaku penuh dengan suara bising. Kemudian berganti suara
berdengung sangat kencang. Makin lama dengungannya semakin kencang. Makin
kencang. Memekakan telinga. Aku merintih kesakitan, telingaku serasa pecah.
Seketika
suara berdengung itu hilang, berganti dengan suara alunan blues samar-samar
terdengar. Mataku mengerjap-ngerjap.
Honey welcome back home,i know she told you.
Honey i know she told you that she
loved me.
Much more than i did, but all i
know is that she left you.
Suara
melengking Janis Joplin lamat-lamat terdengar lewat kupingku. Mataku terus saja mengerjap-ngerjap. Pelan-pelan kubuka
mata. Aku melihat banyak orang duduk di kursi-kursi kayu menghadap jendela.
Pantulan sinar matahari sore terlihat masuk lewat celah-celah jendela diantara
kepulan asap tembakau. Mereka duduk sambil memegang cangkir-cangkir kecil, yang
lainnya terlihat membawa nampan berisi gelas-gelas berisi bir, lalu seorang
pria berjidat lebar memakai ikat kepala sambil menenteng gelas berisi bir
berteriak kepadaku.
“hey honey let’s singing. Kau baru saja
bangun rupanya” katanya sambil tersenyum kepadaku.
Aku
masih linglung. Aku melihat sekeliling, tak ada pria yang menjadi tawananku di
masa lalu. Aku meraba badanku, aku mengenakan kaos oblong dengan jaket bahan levis
warna biru—bukan jaket kulit warna coklat. Ditanganku juga tak ada bercak
darah. “Aku baru saja menawan manusia masa lalu” kataku.
Setelah
mendengar aku berkata, pria dengan ikat kepala didepanku tertawa lantang sampai
gelas berisi bir yang dipegangnya tumpah ruah kebawah mengenai sebagian dari
celananya. “Kau mimpi honey. Haha.
Kau tertidur lelap sekali sekitar satu jam yang lalu” katanya.
Aku
bingung. Terdengar suara musik blues melantun pelan, hiruk pikuk didalam kafe,
suara gemerincing gelas-gelas bir disusul gelak tawa seorang pria yang suaranya
parau sambil terbatuk-batuk, dan Janis masih terus saja bernyanyi lewat
piringan hitam yang berputar disudut kafe.
Come on cry, cry baby, cry baby,
cry baby. Oh honey welcome back home.
Don’t you know honey, ain’t nobobdy
ever gonna love you, the way i try to do?
Cerpen : Elen
Anggun Kusuma
Ilustrasi : hengki
Afrinata

Tidak ada komentar:
Posting Komentar