Kamis, 19 Maret 2015

Anwar Sadat

doc. istimewa

CAMP DAVID, 1979, menjadi titik balik bagi Mesir yang selama berpuluh tahun berhadapan langsung dengan Israel di kancah perang. Anwar Sadat, Menachen Begin dan Jimmy Carter menandatangani perjanjian perdamaian. Gurun Sinai yang sejak perang besar tahun 1967 diduduki Israel dikembalika kepada Mesir. Dunia, terutama Barat, memuji Sadat dan Akademi Swedia memberinya hadia Nobel Perdamaian. Tentu saja bersama Begin. Namun Liga Arab mengecam keras dan menuduh Sadat egois karena demi Gurun Sinai ia melupakan saudara Arabnya yang lain. Presiden Suriah Hafez Assad dan pemimpin Libya Moammar Khadafy, dua pemimpin Arab yang marah terhadap Presiden Mesir itu. Beberapa tahun para pemimpin Liga Arab mengucilkan Sadat.

                Dua tahun sebelumnya, 1977, Sadat pernah membuat trobosan yang belum pernah dilakukan pemimpin Mesir lainnya, termasuk Gamal Abdul Nasser yang legendaries itu. Ia pergi ke Jerusalem untuk bertemu para pemimpin Israel. Kaum Muslimin garis keras marah. Namun tindakan Sadat baik ketika datang ke Jerusalem maupun Camp David mendapat banyak applaus dari para pemimpin dunia. Sadat telah melakukan hal yang berani dan monumental. Ia telah melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayang sama sekali. Mantan Presiden AS Gerald Ford pada waktu itu, tanpa bimbang sama sekali menyebut Anwar Sadat sebagai “Sosok Manusia di Abad 20”. Ketika itu Ford diminta majalh Time untuk mencalonkanya sebagai tokoh yang paling pantas mendapat gelar “Sosok Abad 20”.

                Anwar Sadat memang sudah membuat sejarah. Kendati pun untuk itu ia telah mengundang kebencian orang yang tidak menyukainya. Rakyat Mesir tentu tidak akan melupakan hari Selasa, 6 Oktober 1981, ketika meletus tragedi nasioanal terbesar di negeri lembah Nil itu. Adalah siang yang kelabu bagi bangsa mesir ketika hari itu berondongan peluru dari peserta parade militer menewaskan Sadat. Tragedi yang juga tidak pernah terbayangkan sama sekali. Tidak ada yang menyangka Sadat akan terbunuh ketika sedang memperingati kemenangan Mesir atas Israel dalam perang tahun 1973. Pada saat menyaksikan “parade kemenangan” di kursi kehormatan itulah ia ditembak. Menurut Helena Cobban di The Middle East rentetan tembakan yang mengakhiri hidup Presiden Mesir itu membuka era baru. Kata Cobban, yang menjadi kekuatan utama di Timur Tengah yang berkonfrontasi dengan Israel dan Barat bukan lagi nasionalisme sekuler melainkan Islam. Mungkin saja Cobban benar,bukankah pasca Reza Pahlevi, Iran juga menjadi “anti Barat”. Bahkan Saddam Hussein di Irak.  Konon sekelompok orang menembak Sadat, dipimpin oleh Letnan Satu Khalis Ahmad Syawqi al-Istambuli ada hubungannya dengan kelompok militant yang dikenal dengan nama Al-Jihad.

                “Mesir kehilangan putera terbaiknya,” kata Wakil Presiden Hosni Mubarak, yang kemudian menggantikanya memimpin negeri Piramid itu. Ia berjanji akan melanjutkan kebijaksanaan Sadat, tetap damai dengan Israel. Anwar Sadat sesungguhnya pernah bergandengan tangan dengan kalngan Islam “fundamentalis” untuk menghadapi kaum komunis. Pada tahun 1971, Sadat mendukung para mahasiswa Muslim di kampus-kampus seluruh Mesir untuk “melibas” mahasiswa yang berhaluan “kiri”. Sadat tidak menyadari kelompok mahasiswa yang ia dukung itu kemudian berkembang sendiri dan membentuk “Al-Jam’iyatul Islamiyah”. Enam tahun kemudian sebagian besar anggotanya menentang perdamaian yang ditempuh Sadat dalam meghadapi Israel. Sadat melihat perkembangan yang menghawatirkan. Maka, pada September 1981, satu bulan sebelum ia tewas tertembak ia mengeluarkan dekrit untuk membubarkan “jam’iyah”. Siapa yang tahu sejak saat itu timbul dendam yang membara. Dendam itu benar-benar memuncak ketika 1977 ia pergi ke Jerusalem dan 1979 menandatangani perjanjian Camp David. Oposisi terhdap Sadat terus berkembang. Bahkan dari sayap “Ikhwanul Muslimin” yang paling moderatpun memusuhinya. Berbagai media juga mengeritik keras kebijakan perdamaian Sadat. Al-I’tisham, misalnya,; mengatakn bahwa perdamaian Camp David itu hanyalah sebuah ilusi. Apa yang dilakukan Sadat tersebut diibaratkan sebagai “persekutuan dengan musuh Allah, musuh Rasul, musuh kaum beriman, musuh kemanusian dan keadilan”. “dari lubuk hati kami yakin perdaian itu palsu. Itu merupakan invasi tersembunyi kaum Yahudi terhadap masyarakat mesir yang merupakan kubu pertahanan Islam. Mesir adalah garis terakhir pertahanan menghadapi tuaga musuh Islam: penjajah Barat, kaum Zionis, dan komunis,” tulis Al-I’tisham. Pada tingkatan tertentu oposan Islam bertemu dengan oposan sekuler dan kemudian membentuk semacam koalisi anti Sadat. Hal inilah yang membuat Sadat marah dan menghadapi mereka dengan tangan besi. Ia juga pernah “merangkul” kaum Muslimin garis keras itu dengan memberlakukan hukum Islam dan menghukum orang Islam yang meninggalkan agamnya. Namun upaya itu tidak terlalu berhasil karena dapat tekanan opini dunia.

                Anwar sadat dilahirkan di desa MIt Abul-Kun, di delta sungai Nil yang subur sekitar 100 km dari Kairo. Ayahnya Mohammed el-Sadat seorang kerani di Angkatan Beesnjata yang bertugas di Sudan. Ibunya Sit el-Barien keturunan Mesir dan Sudan. Keluarga Sadat tinggal di rumah berdidnding tanah milik neneknya yang dipanggil Om-Mohammed – artinya ibunya Muhammed. Tahun 1925 ketika Sadat berusia tujuh tahun, seluruh keluarganya pindah ke Kairo dan Sadat melanjutkan sekolah di kota itu. Pada Usia 22 tahun, 1940, Anwar Sadat sudah lulus Akademi Militer Kerajaan Kairo. Saat itu juga ia menikah dengan Ekbal Mohammed Madi. Pada tahun 1942-1945 tanpa alsan yang jelas, Anwar Sadat ditahan. Setelah keluar dari penjara, 1945, setahun kemudian ia ditangkap lagi. Penagkapan kali ini dikaitkan dengan terbunuhnya menteri keuangan Mesir. Thaun 1948, Sadat diadili dan divonis bebas. Bulan Maret 1949 ia menceraikan Ekbal dan dua bulan kemudian menikah dengan Jihan Raouf. Tahun 1954 Sadat diangkat menjadi menteri penerangan. Dan 1970 diangkat menjadi Presiden Mesir menggantikan Nasser yang meninggal 3 bulan sebelumnya.

                Anwar Sadat memerintah dalam baynag-bayang pendahulunya Gamal Abdul Nasser. Memang Nasser sangat berpengaruh pada waktu itu. Orang-orang pro-Nasser masih sangat kuat dan berdiri dibelakang Wakil Presiden Ali-Sabry. Sadat menyadari betul jika ia inggin kedudukanya tidak goyah dan pemerintahanya bisa kuat, pengaruh Nasser harus dihilangkan atau setidaknya dieliminir. Ia singkirkan para penentang, merekrut militer dan birokrat senior dari kalangan atas. Presiden Sadat kemudian membentuk Majelis Nasional dibawah undang-undang yang memberikan wewenang untuk membersihkan lawn-lawanyadan menempatkan Angkatan Bersenjata di bawah perintahnya.


                Sadat juga melanjutkan persahabatan dengan Uni Soviet yang sudah dirintis Nasser. Tapi itu hanya taktik saja. Sebab ia melakukan tindakan yang mengejutkan dengan mengusir ribuan warga Uni Soviet yang dulu diundang Nasser untuk membantu melawan Israel. Sedikit demi sedikit Sadat mengubah ekonomi Mesir yang berwajah sosialis warisan Nasser dengan sedikit lebih kapitalis. Dua bulan setelah berkuasa, ia menghapus penyiitaan negara terhadap asset swasta dan menghidupkan kembali perdagangan bebas di terusan Suez. Langkah Sadat cukup mnegagumkan ketika melancarkan perang dengan Israel pada saat moral militernya merosot. Tetapi ia berhasil mengangkat moral mereka sehingga dalamperang pada tahun 1973 itu Mesir berhasil memukul mundur Israel. Dan anwar Sadat pun menjadi pujaan kembali. Tadinya rakyat pesimis dan menganggap perang melawan Israel hanyalah tindakan bunuh diri. Anwar sadat yang oleh Gerald Ford disamakan dengan Mahatma Gandhi itu juga pemuja Gandhi. Tapi ia juga mengagumi pahlawan Turki, Kamal Ataturk dan diktator Jerman, Adolf Hitler. Ia menyukai pemimpin Nazi itu sebagai orang yang berani menantang Inggris. Setelah Nasser datang dan berhasil mendepak Raja Farouk, Sadat diangkat menjadi menteri penerangan. Sekali pun mempunyai hubungan dekat dengan Nasser, ternyata Sadat menempuh jalanya sendiri, tidak hanya mengatasi konflik Arab-Israel, tetapi juga pembangunan Mesir sebagai negara Arab modern.(50-t-p)

Tidak ada komentar: