![]() |
| doc. istimewa |
CAMP DAVID, 1979, menjadi titik
balik bagi Mesir yang selama berpuluh tahun berhadapan langsung dengan Israel
di kancah perang. Anwar Sadat, Menachen Begin dan Jimmy Carter menandatangani
perjanjian perdamaian. Gurun Sinai yang sejak perang besar tahun 1967 diduduki
Israel dikembalika kepada Mesir. Dunia, terutama Barat, memuji Sadat dan
Akademi Swedia memberinya hadia Nobel Perdamaian. Tentu saja bersama Begin.
Namun Liga Arab mengecam keras dan menuduh Sadat egois karena demi Gurun Sinai ia
melupakan saudara Arabnya yang lain. Presiden Suriah Hafez Assad dan pemimpin
Libya Moammar Khadafy, dua pemimpin Arab yang marah terhadap Presiden Mesir
itu. Beberapa tahun para pemimpin Liga Arab mengucilkan Sadat.
Dua
tahun sebelumnya, 1977, Sadat pernah membuat trobosan yang belum pernah
dilakukan pemimpin Mesir lainnya, termasuk Gamal Abdul Nasser yang legendaries
itu. Ia pergi ke Jerusalem untuk bertemu para pemimpin Israel. Kaum Muslimin
garis keras marah. Namun tindakan Sadat baik ketika datang ke Jerusalem maupun
Camp David mendapat banyak applaus
dari para pemimpin dunia. Sadat telah melakukan hal yang berani dan monumental.
Ia telah melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayang sama sekali.
Mantan Presiden AS Gerald Ford pada waktu itu, tanpa bimbang sama sekali
menyebut Anwar Sadat sebagai “Sosok Manusia di Abad 20”. Ketika itu Ford
diminta majalh Time untuk
mencalonkanya sebagai tokoh yang paling pantas mendapat gelar “Sosok Abad 20”.
Anwar
Sadat memang sudah membuat sejarah. Kendati pun untuk itu ia telah mengundang
kebencian orang yang tidak menyukainya. Rakyat Mesir tentu tidak akan melupakan
hari Selasa, 6 Oktober 1981, ketika meletus tragedi nasioanal terbesar di
negeri lembah Nil itu. Adalah siang yang kelabu bagi bangsa mesir ketika hari
itu berondongan peluru dari peserta parade militer menewaskan Sadat. Tragedi
yang juga tidak pernah terbayangkan sama sekali. Tidak ada yang menyangka Sadat
akan terbunuh ketika sedang memperingati kemenangan Mesir atas Israel dalam
perang tahun 1973. Pada saat menyaksikan “parade kemenangan” di kursi
kehormatan itulah ia ditembak. Menurut Helena Cobban di The Middle East rentetan tembakan yang mengakhiri hidup Presiden
Mesir itu membuka era baru. Kata Cobban, yang menjadi kekuatan utama di Timur
Tengah yang berkonfrontasi dengan Israel dan Barat bukan lagi nasionalisme
sekuler melainkan Islam. Mungkin saja Cobban benar,bukankah pasca Reza Pahlevi,
Iran juga menjadi “anti Barat”. Bahkan Saddam Hussein di Irak. Konon sekelompok orang menembak Sadat,
dipimpin oleh Letnan Satu Khalis Ahmad Syawqi al-Istambuli ada hubungannya
dengan kelompok militant yang dikenal dengan nama Al-Jihad.
“Mesir
kehilangan putera terbaiknya,” kata Wakil Presiden Hosni Mubarak, yang kemudian
menggantikanya memimpin negeri Piramid itu. Ia berjanji akan melanjutkan
kebijaksanaan Sadat, tetap damai dengan Israel. Anwar Sadat sesungguhnya pernah
bergandengan tangan dengan kalngan Islam “fundamentalis” untuk menghadapi kaum
komunis. Pada tahun 1971, Sadat mendukung para mahasiswa Muslim di
kampus-kampus seluruh Mesir untuk “melibas” mahasiswa yang berhaluan “kiri”.
Sadat tidak menyadari kelompok mahasiswa yang ia dukung itu kemudian berkembang
sendiri dan membentuk “Al-Jam’iyatul Islamiyah”. Enam tahun kemudian sebagian
besar anggotanya menentang perdamaian yang ditempuh Sadat dalam meghadapi
Israel. Sadat melihat perkembangan yang menghawatirkan. Maka, pada September
1981, satu bulan sebelum ia tewas tertembak ia mengeluarkan dekrit untuk
membubarkan “jam’iyah”. Siapa yang tahu sejak saat itu timbul dendam yang
membara. Dendam itu benar-benar memuncak ketika 1977 ia pergi ke Jerusalem dan
1979 menandatangani perjanjian Camp David. Oposisi terhdap Sadat terus
berkembang. Bahkan dari sayap “Ikhwanul Muslimin” yang paling moderatpun
memusuhinya. Berbagai media juga mengeritik keras kebijakan perdamaian Sadat.
Al-I’tisham, misalnya,; mengatakn bahwa perdamaian Camp David itu hanyalah
sebuah ilusi. Apa yang dilakukan Sadat tersebut diibaratkan sebagai
“persekutuan dengan musuh Allah, musuh Rasul, musuh kaum beriman, musuh
kemanusian dan keadilan”. “dari lubuk hati kami yakin perdaian itu palsu. Itu
merupakan invasi tersembunyi kaum Yahudi terhadap masyarakat mesir yang
merupakan kubu pertahanan Islam. Mesir adalah garis terakhir pertahanan
menghadapi tuaga musuh Islam: penjajah Barat, kaum Zionis, dan komunis,” tulis
Al-I’tisham. Pada tingkatan tertentu oposan Islam bertemu dengan oposan sekuler
dan kemudian membentuk semacam koalisi anti Sadat. Hal inilah yang membuat
Sadat marah dan menghadapi mereka dengan tangan besi. Ia juga pernah
“merangkul” kaum Muslimin garis keras itu dengan memberlakukan hukum Islam dan
menghukum orang Islam yang meninggalkan agamnya. Namun upaya itu tidak terlalu
berhasil karena dapat tekanan opini dunia.
Anwar
sadat dilahirkan di desa MIt Abul-Kun, di delta sungai Nil yang subur sekitar
100 km dari Kairo. Ayahnya Mohammed el-Sadat seorang kerani di Angkatan
Beesnjata yang bertugas di Sudan. Ibunya Sit el-Barien keturunan Mesir dan
Sudan. Keluarga Sadat tinggal di rumah berdidnding tanah milik neneknya yang
dipanggil Om-Mohammed – artinya ibunya Muhammed. Tahun 1925 ketika Sadat
berusia tujuh tahun, seluruh keluarganya pindah ke Kairo dan Sadat melanjutkan
sekolah di kota itu. Pada Usia 22 tahun, 1940, Anwar Sadat sudah lulus Akademi
Militer Kerajaan Kairo. Saat itu juga ia menikah dengan Ekbal Mohammed Madi.
Pada tahun 1942-1945 tanpa alsan yang jelas, Anwar Sadat ditahan. Setelah
keluar dari penjara, 1945, setahun kemudian ia ditangkap lagi. Penagkapan kali
ini dikaitkan dengan terbunuhnya menteri keuangan Mesir. Thaun 1948, Sadat
diadili dan divonis bebas. Bulan Maret 1949 ia menceraikan Ekbal dan dua bulan
kemudian menikah dengan Jihan Raouf. Tahun 1954 Sadat diangkat menjadi menteri
penerangan. Dan 1970 diangkat menjadi Presiden Mesir menggantikan Nasser yang
meninggal 3 bulan sebelumnya.
Anwar
Sadat memerintah dalam baynag-bayang pendahulunya Gamal Abdul Nasser. Memang
Nasser sangat berpengaruh pada waktu itu. Orang-orang pro-Nasser masih sangat
kuat dan berdiri dibelakang Wakil Presiden Ali-Sabry. Sadat menyadari betul
jika ia inggin kedudukanya tidak goyah dan pemerintahanya bisa kuat, pengaruh
Nasser harus dihilangkan atau setidaknya dieliminir. Ia singkirkan para
penentang, merekrut militer dan birokrat senior dari kalangan atas. Presiden
Sadat kemudian membentuk Majelis Nasional dibawah undang-undang yang memberikan
wewenang untuk membersihkan lawn-lawanyadan menempatkan Angkatan Bersenjata di
bawah perintahnya.
Sadat
juga melanjutkan persahabatan dengan Uni Soviet yang sudah dirintis Nasser.
Tapi itu hanya taktik saja. Sebab ia melakukan tindakan yang mengejutkan dengan
mengusir ribuan warga Uni Soviet yang dulu diundang Nasser untuk membantu
melawan Israel. Sedikit demi sedikit Sadat mengubah ekonomi Mesir yang berwajah
sosialis warisan Nasser dengan sedikit lebih kapitalis. Dua bulan setelah
berkuasa, ia menghapus penyiitaan negara terhadap asset swasta dan menghidupkan
kembali perdagangan bebas di terusan Suez. Langkah Sadat cukup mnegagumkan
ketika melancarkan perang dengan Israel pada saat moral militernya merosot.
Tetapi ia berhasil mengangkat moral mereka sehingga dalamperang pada tahun 1973
itu Mesir berhasil memukul mundur Israel. Dan anwar Sadat pun menjadi pujaan
kembali. Tadinya rakyat pesimis dan menganggap perang melawan Israel hanyalah
tindakan bunuh diri. Anwar sadat yang oleh Gerald Ford disamakan dengan Mahatma
Gandhi itu juga pemuja Gandhi. Tapi ia juga mengagumi pahlawan Turki, Kamal
Ataturk dan diktator Jerman, Adolf Hitler. Ia menyukai pemimpin Nazi itu
sebagai orang yang berani menantang Inggris. Setelah Nasser datang dan berhasil
mendepak Raja Farouk, Sadat diangkat menjadi menteri penerangan. Sekali pun
mempunyai hubungan dekat dengan Nasser, ternyata Sadat menempuh jalanya sendiri,
tidak hanya mengatasi konflik Arab-Israel, tetapi juga pembangunan Mesir
sebagai negara Arab modern.(50-t-p)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar