Selasa, 17 Maret 2015

Mahmoud Ahmadinejad

                
doc.istimewa
Mahmoud Ahmadinejad. Ia adalah satu dari sekian banyak presiden yang punya nyali menantang keangkuhan George Walker Bush. Dia tidak gentar terhadap tekanan AS agar menghentikan program nuklirnya. Bahkan Ahmadinejad menyatakan dengan berani bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan untuk memenuhi kebutuhan listrik iran.

                Ahmadinejad pun juga berani menggertak Israel untuk menyingkir dari wilayah Timur Tengah. Kutipan pernyataanya dalam sebuah pertemuan di hadapan para mahasiswa pada 26 Oktober 2005 dari penyataan Ayatollah Khomeini yang menyerukan agar Israel “dihapus dari peta dunia” memicu kontroversi. Gertakan penguasa Iran tersebut tentu membuat gerah pemerintah AS dan negara-negara Eropa Barat pro-Israel. Yang tak kalah heboh adalah gugatannya mengenai sejarah kelam pembantaian Nazi Jerman terhadap etnik Yahudi menjelang Perang Dunia II.

                Tetapi Ahmadinejad pun tak lepas dari caci-maki. Oleh sekelompok orang yang anti-Ahmadinejad ia dipandang tak lebih hanyalah sebagai seorang provokator, gatal perang, dan gila pujian. Ada pula yang menilainya sebagai buldoser, akalnya kolot, dan tak mengenal etika pergaulan.

                Bukanlah suatu kebetulan jika Ahmadinejad menyandang beberapa hal yang kontradiksi. Ia adalah seorang dosen yang bergelar doctor. Namun ia juga konservatif yang fanatik dan terdidik di bawah bimbingan Iman Khomeini. Ia memadukan nilai-nilai klasik dan kontemporer. Ia memadukan keluwesan yang sudah menjadu cirri khas diplomator Iran sepanjang sejarah. Namun, pada waktu yang sama ia tampak sebagai kepribadian yang sangat tegas dan keras, khususnya pada urusan yang berhubungan dengan ideologi, kehormatan, atau apa yang disebut dengan “ego Iran”. Dalam dirinya tertanam nilai-nilai peradaban yang telah ada sejak 5.000 tahun dan kebesaran bangsa yang jarang ada tandingannya.

                Ahmadinejad merupakan presiden iran pertama yang berasal dari keluarga miskin pedesaan dan tidak memiliki hubungan dengan tokoh agama. Ia berasal dari luar kalangan ulama sejak 24 tahun berdirinya negeri ini. Sebagai anak seorang pandai besi, ia mewujud dalam pandangan masyarakat iran sebagai “putra sejati bangsa” yang jauh dari seragam seorang aristocrat. Dalam pemilu juni 2005, ahmadinejad mengantongi 17.248.782 suara – 61,69 persen dari total pemilih. Sementara lawanya Rafsanjani mendapat 10.043.489 suara atau 35,92 persen.

                Ahmadinejad dilahirkan 28 oktober 1956dalam keluarga yang taat beragamadi desa pertanian Aradan, dekat Gramsar, 100 km dari Teheran. Ia adalah putra seoranf pandai (tukang tempa) besi. Keluarganya pindah ke Teheran ketika usianya satu tahun. Ia menimba ilmu pada tingkat dasar di sekolah agama di Teheran. Kemudian ia melanjutkan ke perguruan tinggi pada jurusan teknik di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) di Teheran. Ia memilih jurusan dalam bidang teknik bangaunan dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Hal ini mendorong dirinya untuk melanjutkan pada jenjang S2 di universitas yang sama, hingga dapat menyelesaikannya dan meraih gelar doktor dalam bidang teknik bangunan. Kemudian ia menjadi salah satu dosen di universitas tersebut.

                Aktivitas politiknya dimulai dengan bergabung dalam aksi revolusi ketika masih belajar di perguruan tinggi. Ia pernah bergabung dalam Persatuan Insinyur Muslim (Islamic Society of Engineers) juga menjadi salah satu anggota ketua perwakilan Universita Sains dan Teknologi Iran (IUST) untuk perkumpulan mahasiswa. Ahmadinejad pernah bergabung dalam Garda Revolusi Islam Iran dan ikut dalam barisan mereka pada saat perang Irak-Iran. Dia berhasil mendapatkan gelar Fidai (Janibaz) dan menjadi anggota perkumpulan fidai revolusi (Janibazan). Kemudian Mustafa Muin, Menteri Kebudayaan dan Perguruan Tinggi dalam Kabinet Rafsanjani memilihnya menjadi penasehat pribadi. Karir politiknya meningkat ketika Presiden Hashemi Rafsanjani mengangkatnya menjadi sebagai bupati kota Ardabil, provinsi Azerbaijan Timur. Ia terus menjabat sebgai bupati kota tersebut sampai emilihan anggota dewan pada pemilu terkahir, ketika anggota radikal mendominasi perolehan suara. Setelah itu Dewan Islam Wilayah Teheran memilih dirinya sebgai Gubernur Teheran.

                Sejak menjabat sebagai gubernur Teheran pada akhir tahun 90-an, Ahmadinejad memfokuskan agenda utamanya dengan bertolak pada ajaran dan pemikiran Imam Khomeini. Ia mewajibkan seluruh wanita Iran berbusa muslim di tempat-tempat umum, memastikan adanya pemisah antara perempuan dan laki-laki di sarana transportasi umum, lift, atau kantor-kantor pemerintahan. Tayangan iklan yang mneyelipkan pesan-pesan tak bermoral juga dilarang.

                Ahmadinejad mulai membangun basis massanya ketika menjadi Walikota Teheran dengan merekrut sejumlah tenaga muda di tata laksana pemerintahanya dan sukses mengatasi permasalahan lalulintas di kota yang dihuni 8 juta penduduk Iran. Ia juga mengeluarkan kebijakan memberikan pinjaman tanpa bunga kepada pasangan suani-istri yang baru menikah.


                Tak ada kamus menyerah dala benak Mahmoud Ahmadinejad. Setelah DK PBB resmi menjatuhkan Resolusi Nomor 1747, Presiden Iran itu malah menunjukan keseriusan untuk mengembangkan program nuklir ke fase lebih tinggi. Sehari setelah mengumumkan program nuklirnya siap memproduksi bahan bakar nuklir skala industry, Ahmadinejad menyatakan siap memasang 50.000 mesin sentrifugal. Selain itu, Iran juga bertekad membangun dua reactor nuklir baru. Rencananya, dua reactor baru itu digunakan sebagai pembangkit enrgi listrik. AS memang patut untuk merasa gerah. Departemen Luar Negeri Jerman dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, “sepertinya, Iran benar-benar salah langkah.”(50-T-P)

Tidak ada komentar: