![]() |
| doc.istimewa |
Mahmoud Ahmadinejad. Ia adalah satu dari sekian banyak
presiden yang punya nyali menantang keangkuhan George Walker Bush. Dia tidak gentar
terhadap tekanan AS agar menghentikan program nuklirnya. Bahkan Ahmadinejad
menyatakan dengan berani bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan untuk memenuhi
kebutuhan listrik iran.
Ahmadinejad
pun juga berani menggertak Israel untuk menyingkir dari wilayah Timur Tengah. Kutipan
pernyataanya dalam sebuah pertemuan di hadapan para mahasiswa pada 26 Oktober
2005 dari penyataan Ayatollah Khomeini yang menyerukan agar Israel “dihapus
dari peta dunia” memicu kontroversi. Gertakan penguasa Iran tersebut tentu
membuat gerah pemerintah AS dan negara-negara Eropa Barat pro-Israel. Yang tak
kalah heboh adalah gugatannya mengenai sejarah kelam pembantaian Nazi Jerman
terhadap etnik Yahudi menjelang Perang Dunia II.
Tetapi Ahmadinejad
pun tak lepas dari caci-maki. Oleh sekelompok orang yang anti-Ahmadinejad ia dipandang
tak lebih hanyalah sebagai seorang provokator, gatal perang, dan gila pujian. Ada
pula yang menilainya sebagai buldoser, akalnya kolot, dan tak mengenal etika
pergaulan.
Bukanlah
suatu kebetulan jika Ahmadinejad menyandang beberapa hal yang kontradiksi. Ia adalah
seorang dosen yang bergelar doctor. Namun ia juga konservatif yang fanatik dan
terdidik di bawah bimbingan Iman Khomeini. Ia memadukan nilai-nilai klasik dan
kontemporer. Ia memadukan keluwesan yang sudah menjadu cirri khas diplomator
Iran sepanjang sejarah. Namun, pada waktu yang sama ia tampak sebagai
kepribadian yang sangat tegas dan keras, khususnya pada urusan yang berhubungan
dengan ideologi, kehormatan, atau apa yang disebut dengan “ego Iran”. Dalam dirinya
tertanam nilai-nilai peradaban yang telah ada sejak 5.000 tahun dan kebesaran
bangsa yang jarang ada tandingannya.
Ahmadinejad
merupakan presiden iran pertama yang berasal dari keluarga miskin pedesaan dan
tidak memiliki hubungan dengan tokoh agama. Ia berasal dari luar kalangan ulama
sejak 24 tahun berdirinya negeri ini. Sebagai anak seorang pandai besi, ia
mewujud dalam pandangan masyarakat iran sebagai “putra sejati bangsa” yang jauh
dari seragam seorang aristocrat. Dalam pemilu juni 2005, ahmadinejad mengantongi
17.248.782 suara – 61,69 persen dari total pemilih. Sementara lawanya Rafsanjani
mendapat 10.043.489 suara atau 35,92 persen.
Ahmadinejad
dilahirkan 28 oktober 1956dalam keluarga yang taat beragamadi desa pertanian
Aradan, dekat Gramsar, 100 km dari Teheran. Ia adalah putra seoranf pandai (tukang
tempa) besi. Keluarganya pindah ke Teheran ketika usianya satu tahun. Ia menimba
ilmu pada tingkat dasar di sekolah agama di Teheran. Kemudian ia melanjutkan ke
perguruan tinggi pada jurusan teknik di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST)
di Teheran. Ia memilih jurusan dalam bidang teknik bangaunan dan lulus dengan
nilai yang sangat memuaskan. Hal ini mendorong dirinya untuk melanjutkan pada
jenjang S2 di universitas yang sama, hingga dapat menyelesaikannya dan meraih
gelar doktor dalam bidang teknik bangunan. Kemudian ia menjadi salah satu dosen
di universitas tersebut.
Aktivitas
politiknya dimulai dengan bergabung dalam aksi revolusi ketika masih belajar di
perguruan tinggi. Ia pernah bergabung dalam Persatuan Insinyur Muslim (Islamic Society of Engineers) juga menjadi salah satu anggota ketua
perwakilan Universita Sains dan Teknologi Iran (IUST) untuk perkumpulan
mahasiswa. Ahmadinejad pernah bergabung dalam Garda Revolusi Islam Iran dan
ikut dalam barisan mereka pada saat perang Irak-Iran. Dia berhasil mendapatkan
gelar Fidai (Janibaz) dan menjadi
anggota perkumpulan fidai revolusi (Janibazan).
Kemudian Mustafa Muin, Menteri Kebudayaan dan Perguruan Tinggi dalam Kabinet
Rafsanjani memilihnya menjadi penasehat pribadi. Karir politiknya meningkat
ketika Presiden Hashemi Rafsanjani mengangkatnya menjadi sebagai bupati kota
Ardabil, provinsi Azerbaijan Timur. Ia terus menjabat sebgai bupati kota
tersebut sampai emilihan anggota dewan pada pemilu terkahir, ketika anggota
radikal mendominasi perolehan suara. Setelah itu Dewan Islam Wilayah Teheran
memilih dirinya sebgai Gubernur Teheran.
Sejak menjabat
sebagai gubernur Teheran pada akhir tahun 90-an, Ahmadinejad memfokuskan agenda
utamanya dengan bertolak pada ajaran dan pemikiran Imam Khomeini. Ia mewajibkan
seluruh wanita Iran berbusa muslim di tempat-tempat umum, memastikan adanya
pemisah antara perempuan dan laki-laki di sarana transportasi umum, lift, atau
kantor-kantor pemerintahan. Tayangan iklan yang mneyelipkan pesan-pesan tak
bermoral juga dilarang.
Ahmadinejad
mulai membangun basis massanya ketika menjadi Walikota Teheran dengan merekrut
sejumlah tenaga muda di tata laksana pemerintahanya dan sukses mengatasi
permasalahan lalulintas di kota yang dihuni 8 juta penduduk Iran. Ia juga
mengeluarkan kebijakan memberikan pinjaman tanpa bunga kepada pasangan
suani-istri yang baru menikah.
Tak ada
kamus menyerah dala benak Mahmoud Ahmadinejad. Setelah DK PBB resmi menjatuhkan
Resolusi Nomor 1747, Presiden Iran itu malah menunjukan keseriusan untuk
mengembangkan program nuklir ke fase lebih tinggi. Sehari setelah mengumumkan
program nuklirnya siap memproduksi bahan bakar nuklir skala industry,
Ahmadinejad menyatakan siap memasang 50.000 mesin sentrifugal. Selain itu, Iran
juga bertekad membangun dua reactor nuklir baru. Rencananya, dua reactor baru
itu digunakan sebagai pembangkit enrgi listrik. AS memang patut untuk merasa
gerah. Departemen Luar Negeri Jerman dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, “sepertinya,
Iran benar-benar salah langkah.”(50-T-P)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar