Senin, 16 Maret 2015

Penyebaran Islam di Indonesia dan Konflik Politik



doc.istimewa
Penulisan tentang penyebaran agama islam di Indonesia pada abad ke-14 sampai 16 biasanya dilakukan oleh para ahli arkeologii dan bahasa yang meneliti berbagai macam teks ajaran islam. Masalah utama yang biasanya dibahas adalah kapan islam pertama kali memperlihatkan dampaknya.
            Islam di jawa menyebar melalui Wali Songo, Sembilan tokoh sakti Islam ini menyiarkan agama menurut tradisi jawa. Ada banyak dongeng mengenai keajaiban yang mereka perlihatkan. Di antara para wali ada yang merupakan tokoh sejarah seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Giri, Sunan Ngampel. Namu ada juga yag hanya legenda dan diragukan apakah mereka memang ada. Dari dongeng para wali itu selalu muncul kenyataan bahwa agama baru ini, islam, lebih unggul sebagai kekuatan magis daripada agama lama (Buddha).

Dari naskah agama islam yang sampai kepada kita dari zaman tersebut terungkap juga bahwa islam yang menyebar ke asia tenggara adalah Islam Sufi yang berorientasi ke mistik. Para sarjana, anatara lain Sidney jones, berpendapat bahwa hanya islam yang berbentuk mistik ini yang dapat menyebar ke Indonesia karena cocok dengan alam rohani masyarakatnya. Para sarjana lain, khususnya Belanda, menunjukan bahwa islam datang ke Indonesia mengintegrasikan banyak kebudayaan setempat. Islam mungkin hanya merupakan cat pada permukaan yang apabila digaruk akan menunjukan wajah Hindu-Budha, dan apabila di  garuk lebih dalam lagi terlihat wajah aslinya, yakni animisme. Semua itu mungkin benar , dan para sarjana itu memberikan banyak keterangan yang berharga mengenai sofat dan struktur ajaran islam di Indonesia. Sarjana antropologi terkenal Clifford Geertz, yang karya klasiknya mengenai agama jawa telah diterjemahkan, melihat tiga lapisan agama di jawa, yakni santri, priayi, dan abnangan, yang jadi judul buku terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Misteri Peralihan Agama

doc.istimewa
            Misteri peralaihan agama di Indonesia dari abad ke-14 sampai 16 belum terpecahkan. Peralihan ini dapat dikatakan berlangsung singkat dan kokoh., sebab sampai kini agama islam, bagaimanapun penghayatanya, adalah doniman di Indonesia. selain itu, sejak Islam tersebar di Indonesia agama memainkan peran politik yang lebih penting daripada sebelumnya. Memang dalam Pararaton dikisahkan tentang para brahmana yang meninggalkan Tunggul Ametung untuk mengakui Ken Arok sebagai raja. Namun bandingkan dengan peristiwa tunggal ini dengan yang dialami oleh Sultan Agung ketika menghadapi para ulama, atau yang lebih tragis lagi Sultan Amangkurat I, yang dikatakan membunuh ribuan ulama untuk menegakkan kekuasaannya.

            Dalam setiap pemberontokan yang dihadapi oleh dinasti Mataram Islam dan ulamanya berperan, seperti dalam pemberontakan Trunojoyo (1678), perang Diponegoro (1825-1830), gerkan ratu adil seperti di Cilegon (1882), ataupun Sarekat Islam yang menjadi bagian pergerakan nasional pada abad ke-20. Dala Perang Aceh, islam dan para ulamanya juga berperan besar.

            Dari uraian ini tampak perlaihan jelas memiliki arti politis dan sosilogis yang dalam. Almarhum H.J Benda dari Yale University, seorang sarjana yang ahli mengenai Asia tenggara dan Indonesia, mengajukan hipotesa bahwa perubahan agama di Indonesia dan Asia Tenggara Daratan terjadi pada zaman yang sama.

Krisis Dewa-Raja

doc.istimewa
            H.J Benda melihat perlaihan agama di Asia tenggara daei Civa-Buddha, atau Buddha menurut istilah jawa,ke Islam pada abad ke 14-16 tidaklah unik. Di daratan Asia Tenggara, kecuali di Malaysia, terjadi pula peralihan agama ke ajaran Buddha Theravada yang disebarkan dari Sri Lanka. Seperti Islam, ajaran Buddha Theravada memiliki cirri yang lebih kerakyatan daripada ajaran agama sebelumnya, yang berkisar pada Brahmanisme, di mana brahma-nya merupakan golongan pendeta yang bertugas melegitimasi konsep dewa-raja. Dengan kata lain, kaum Brahman ini melihat ke atas atau ajran merekan tidak berakar ke bawah, ke rakyat.

            Baik islam maupun Buddha Theravada memiliki konsep yang egalitarian, semua orang adalah sama di mata tuhan, apakah ia raja, priayi, atau wong cilik (rakyat biasa). Para ulama dalam agama islam dan para biarawan (biksu/pongyi) dalam agama Buddha Theravada merupakan tokoh agama. Berlainan dengan kaum Brahman, ulama maupun pongyi mengkritik ataupun sering menunjukan sikap lebih kritis terhadap kewenangan raja. Lebih penting dari ini, ulama dan pongyi hidup di tengah rakyat dan menjadi tokoh di sana sehingga dapt menjadi counter elite terhadap elite politik, yakni para pejabat kerjaan atau golongan priayi.

            Berlainan dengan priayi yang tinggal di keraton atau kota kabupaten, hal yang juga dilakukan kaum Brahman dahulu, para ulama dan  pongyi  lebih dapat menjadi saluran bagi keluhan masyarakat. Seperti telah disebut di atas, banyak pemberontakan yang dipimpin oleh ulama dan pongyi. Pendek kata, menurut H.J Benda, peralihan agama di Asia tTenggara pada abad ke-14-16 memberikan dampak perubahan structural yang sangat penting, sebagai akibat dari krisis agama sebelumnya maupun krisis hubungan antara raja dengan rakyatnya.

            Di daratan Asia Tenggara krisis dewa-raja terefleksi dari runtuhnya Angkor di Kamboja. Di anatara monument peninggalan para dewa-raja di Asia Tenggara, tidak ada yang semegah, seagung, dan semonumental Angkorwat. Angkorwat ini tidak kalah jika dibandingkan dengan monument sejarah lain, seperti bangunan Piramida FIraun di Mesir atau banguna di Iran. Dengan sendirinya pembangunan Angkorwat itu merupakan beban bagi rakyatnya. Tetapi kita tidak mendengar apa-apa tentang keruntuhan Angkotwat. Kemungkinan besar rakyat pergi meninggalkan tempat tersebut karena melarikan diri dari beban penderitaan atau terjadi epidemic.

Posisi Pedalaman

doc.istimewa
            Kalau perubahan agama dari abad ke-14-16 disebabkan oleh dinamika masyarakat terhadap reaksi terhadap beban dari atas, lantas mengapa bukan agama Buddha Therava yang menyebar ke Indonesia dan kepulauan Asia tenggara melainkan Islam? Dalam hal ini semenanjung Malaysia harus dilihat pula sebagai bagian dari semenanjung Asia Tenggara yang menganut Agama Islam, sang tersebar sampai ke Luzon (FIlipina Utara) dan sekitar manila sebelum sepanyol dating.

            Masalah ini timbul justru karena struktur Buddha Theravada dan Islam maupun Katolik-Spanyol yang tersebar Filipina Utara, menurut Benda, tidak banyak berbeda. Jawabanya adalah faktor geografi dan sejarah. Kepulauan Asia Tenggara sangat penting sebagai daerah perdagangan dan dari abad ke-14-16 perdagangan Islam adalah yang unggul.

            Perdagnangan itu berpusat di Gujarat, india, yang jatuh dibawah kekuasaan Islam. Kerajaan Islam ini menyebabkan berdirinya kerajaan maritim di Sumatera Utara, seperti Pidie, Pasai dan kemudian Aceh. Malaka, yang sudah merupakan pelabuhan penting sebelum rajanya masik islam dan bergelar Sultan Malaka, sengaja menarik perdagangan Islam.

            Perlindungan militer dan politis karena ancaman Ayuthia (Siam) maupun Majapahit (jawa) merupakan faktor lain perubahan agama di Malaka. Sejarawan O.W Woters menunjukan alasan konkret mengapa para maharaja Malaka masuk agama Islam, yakni untuk memperkuat kedudukan dangang dan politiknya. Memang, Malaka dibawah para sultannya yang Islam menjadi pelabuhan dan pusat imperium lautan yang terbesar di Asia tenggara sampai 1512, ketika kerajaan maritim ini jatuh ke tangan Portugis.sampai masa itu Malaka menjadi pengganti Sriwijaya dan pendahulu Singapura di zaman modern.

         Penyebaran Islam melalui perdagngan itu, bagi Indonesia, mengungkap masalah lain di samping masalah kerjaan dengan Brahmanisme-nya dan dinamika masyarakat, yakni konflik anatara Negara maritim dan negara agraris-pedalaman. Para sejarawan seperti J.C Van Leur dan Bretman Johannes Otto Schrieke, sudah mengajukan pertentangan atara kedua struktur politis tersebut. Sriwijaya mewakili pola maritim melawan Mataram I di sekitar abad ke-9-10. Kerajaan-kerjaan islam pesisir seperti Demak, Kudus, Tuban, Giri Ngampel mewakili pola maritim. Hal yang serupa juga terjadi antara pesisir utara melawan Mataram II (Senopati Sultan Agung) pada abad ke 16.

            Singkat kata, penyebaran agama Islam ke Indonesia harus dilihat tidak hanya karena konflik sosial antara kerajaan Brahman dengan masyarakatnya, tetapi juga dari sudut persaingan anatara pesisir dan agraris pedalaman, antara kosmopolitanisme dan isolasionalisme. Melalui pola pertentangan ini para sejarwan mencoba menjelaskan perubahan sosial, politik, maupun ekonomi yang terjadi.

Peran Dongeng

doc. istimewa
Bagaimana dengan dongeng Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam? Zaman perlihan agama di mana pun juga selalu kacau, baik itu peralihan ke Islam, ke Katolik, atau ke Protestan. Perubahan ini selalu terkait dengan kisah-kisah ajaib. Yang terakhir ini adalah untuk memperkokoh kepercayaan dan penghayatan agama.

Dalam agama Kristen yang tersebar di Eropa ada banyak  cerita tentang kaum penyebar agama, orang suci, St. Patrick di Irlandia, St. George di Inggris yang membunuh naga, St. Wilibrodus di Nederland, St. Nicolas, atau St. Elizabeth yang melakukan hal-hal ajaib. Banyak di antara orang-orang suci itu, dalam usaha merasionalisasikan agama, kini mulai dikeuarkan dan tidak diakui oleh gereja Katolik-Roma. Kendati demikian usaha ini  banyak menimbulkan protes dari kalangan umat Katolik, hal yang menunjukan bahwa Barat pun terdapat kesukaran untuk menyesuaikan rasio/ilmu dan kepercayaan dan penghayatan. Jadi, tidaklah mengherankan bila penyebaran agama islam di Jawa ada pula kisah-kisah keajaiban Wali Songo.

Agama dan Politik

doc. istimewa
            Ketika menulis teorinya mengenai peralihan agama di Asia Tengga, H.J Benda mengambil contoh peran para biksu dalam melawan pemerintahan Ngo Dien Dhiem di Vietnam selatan, peran para pongyi dalam pemberontakan Saya Sen di Myanmar pada tahun 1930-an, dan peran para ulama dalam pemberontakan di Cilegon (1882) di Indonesia.

Para pemberontak dalam karya H.J Benda itu gagal melawan negara. Sekarang peran agama sebagai jawaban masyarakat terhadap penindasan negara lebih relevan lagi, sebab revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini terbukti dapat menggoncangkan negara totaliter modern di bawah Syah Iran. Demikian pula Polandia, di mana timbul reaksi keras masyarakat disekitar gereja terhadap rezim totaliter modern.

Selama ini cendikiawan selalu mengira penindasan oleh negara dan perluasan campur tangan aparat dalam kehidupan masyarakat tanpa persetujuan masyarakat, yang merupakan gejala hal negara Dunia Ketiga, akan dijawab oleh masyarakat dengan revolusi liberal, sosialis bahkan komuni. Padahal dari dahulu sampai kini jawaban masyarakat bias juga melalui agama. Dengan kata lain, bail pada zaman kolonialmaupun nasional agama dapat menjadi unsure politis. (O-O-H)

Tidak ada komentar: