![]() |
| doc.istimewa |
Penulisan tentang penyebaran
agama islam di Indonesia pada abad ke-14 sampai 16 biasanya dilakukan oleh para
ahli arkeologii dan bahasa yang meneliti berbagai macam teks ajaran islam. Masalah
utama yang biasanya dibahas adalah kapan islam pertama kali memperlihatkan
dampaknya.
Islam
di jawa menyebar melalui Wali Songo, Sembilan tokoh sakti Islam ini menyiarkan
agama menurut tradisi jawa. Ada banyak dongeng mengenai keajaiban yang mereka
perlihatkan. Di antara para wali ada yang merupakan tokoh sejarah seperti Sunan
Gunung Jati, Sunan Giri, Sunan Ngampel. Namu ada juga yag hanya legenda dan
diragukan apakah mereka memang ada. Dari dongeng para wali itu selalu muncul
kenyataan bahwa agama baru ini, islam, lebih unggul sebagai kekuatan magis
daripada agama lama (Buddha).
Dari naskah agama islam
yang sampai kepada kita dari zaman tersebut terungkap juga bahwa islam yang
menyebar ke asia tenggara adalah Islam Sufi yang berorientasi ke mistik. Para sarjana,
anatara lain Sidney jones, berpendapat bahwa hanya islam yang berbentuk mistik
ini yang dapat menyebar ke Indonesia karena cocok dengan alam rohani
masyarakatnya. Para sarjana lain, khususnya Belanda, menunjukan bahwa islam datang
ke Indonesia mengintegrasikan banyak kebudayaan setempat. Islam mungkin hanya
merupakan cat pada permukaan yang apabila digaruk akan menunjukan wajah
Hindu-Budha, dan apabila di garuk lebih
dalam lagi terlihat wajah aslinya, yakni animisme. Semua itu mungkin benar ,
dan para sarjana itu memberikan banyak keterangan yang berharga mengenai sofat
dan struktur ajaran islam di Indonesia. Sarjana antropologi terkenal Clifford
Geertz, yang karya klasiknya mengenai agama jawa telah diterjemahkan, melihat
tiga lapisan agama di jawa, yakni santri, priayi, dan abnangan, yang jadi judul
buku terjemahan dalam bahasa Indonesia.
Misteri
Peralihan Agama
![]() |
| doc.istimewa |
Misteri
peralaihan agama di Indonesia dari abad ke-14 sampai 16 belum terpecahkan. Peralihan
ini dapat dikatakan berlangsung singkat dan kokoh., sebab sampai kini agama
islam, bagaimanapun penghayatanya, adalah doniman di Indonesia. selain itu, sejak
Islam tersebar di Indonesia agama memainkan peran politik yang lebih penting
daripada sebelumnya. Memang dalam Pararaton
dikisahkan tentang para brahmana yang meninggalkan Tunggul Ametung untuk
mengakui Ken Arok sebagai raja. Namun bandingkan dengan peristiwa tunggal ini
dengan yang dialami oleh Sultan Agung ketika menghadapi para ulama, atau yang
lebih tragis lagi Sultan Amangkurat I, yang dikatakan membunuh ribuan ulama
untuk menegakkan kekuasaannya.
Dalam
setiap pemberontokan yang dihadapi oleh dinasti Mataram Islam dan ulamanya
berperan, seperti dalam pemberontakan Trunojoyo (1678), perang Diponegoro (1825-1830),
gerkan ratu adil seperti di Cilegon (1882), ataupun Sarekat Islam yang menjadi
bagian pergerakan nasional pada abad ke-20. Dala Perang Aceh, islam dan para
ulamanya juga berperan besar.
Dari
uraian ini tampak perlaihan jelas memiliki arti politis dan sosilogis yang
dalam. Almarhum H.J Benda dari Yale University, seorang sarjana yang ahli
mengenai Asia tenggara dan Indonesia, mengajukan hipotesa bahwa perubahan agama
di Indonesia dan Asia Tenggara Daratan terjadi pada zaman yang sama.
Krisis
Dewa-Raja
![]() |
| doc.istimewa |
H.J
Benda melihat perlaihan agama di Asia tenggara daei Civa-Buddha, atau Buddha
menurut istilah jawa,ke Islam pada abad ke 14-16 tidaklah unik. Di daratan Asia
Tenggara, kecuali di Malaysia, terjadi pula peralihan agama ke ajaran Buddha
Theravada yang disebarkan dari Sri Lanka. Seperti Islam, ajaran Buddha
Theravada memiliki cirri yang lebih kerakyatan daripada ajaran agama
sebelumnya, yang berkisar pada Brahmanisme, di mana brahma-nya merupakan
golongan pendeta yang bertugas melegitimasi konsep dewa-raja. Dengan kata lain,
kaum Brahman ini melihat ke atas atau ajran merekan tidak berakar ke bawah, ke
rakyat.
Baik
islam maupun Buddha Theravada memiliki konsep yang egalitarian, semua orang
adalah sama di mata tuhan, apakah ia raja, priayi, atau wong cilik (rakyat
biasa). Para ulama dalam agama islam dan para biarawan (biksu/pongyi) dalam agama Buddha Theravada merupakan tokoh agama. Berlainan dengan
kaum Brahman, ulama maupun pongyi
mengkritik ataupun sering menunjukan sikap lebih kritis terhadap kewenangan
raja. Lebih penting dari ini, ulama dan pongyi
hidup di tengah rakyat dan menjadi tokoh di sana sehingga dapt menjadi counter elite terhadap elite politik,
yakni para pejabat kerjaan atau golongan priayi.
Berlainan
dengan priayi yang tinggal di keraton atau kota kabupaten, hal yang juga
dilakukan kaum Brahman dahulu, para ulama dan pongyi lebih dapat menjadi saluran bagi keluhan
masyarakat. Seperti telah disebut di atas, banyak pemberontakan yang dipimpin
oleh ulama dan pongyi. Pendek kata,
menurut H.J Benda, peralihan agama di Asia tTenggara pada abad ke-14-16
memberikan dampak perubahan structural yang sangat penting, sebagai akibat dari
krisis agama sebelumnya maupun krisis hubungan antara raja dengan rakyatnya.
Di daratan
Asia Tenggara krisis dewa-raja terefleksi dari runtuhnya Angkor di Kamboja. Di anatara
monument peninggalan para dewa-raja di Asia Tenggara, tidak ada yang semegah,
seagung, dan semonumental Angkorwat. Angkorwat ini tidak kalah jika
dibandingkan dengan monument sejarah lain, seperti bangunan Piramida FIraun di
Mesir atau banguna di Iran. Dengan sendirinya pembangunan Angkorwat itu
merupakan beban bagi rakyatnya. Tetapi kita tidak mendengar apa-apa tentang
keruntuhan Angkotwat. Kemungkinan besar rakyat pergi meninggalkan tempat
tersebut karena melarikan diri dari beban penderitaan atau terjadi epidemic.
Posisi
Pedalaman
![]() |
| doc.istimewa |
Kalau
perubahan agama dari abad ke-14-16 disebabkan oleh dinamika masyarakat terhadap
reaksi terhadap beban dari atas, lantas mengapa bukan agama Buddha Therava yang
menyebar ke Indonesia dan kepulauan Asia tenggara melainkan Islam? Dalam hal
ini semenanjung Malaysia harus dilihat pula sebagai bagian dari semenanjung
Asia Tenggara yang menganut Agama Islam, sang tersebar sampai ke Luzon (FIlipina
Utara) dan sekitar manila sebelum sepanyol dating.
Masalah
ini timbul justru karena struktur Buddha Theravada dan Islam maupun Katolik-Spanyol
yang tersebar Filipina Utara, menurut Benda, tidak banyak berbeda. Jawabanya
adalah faktor geografi dan sejarah. Kepulauan Asia Tenggara sangat penting
sebagai daerah perdagangan dan dari abad ke-14-16 perdagangan Islam adalah yang
unggul.
Perdagnangan
itu berpusat di Gujarat, india, yang jatuh dibawah kekuasaan Islam. Kerajaan Islam
ini menyebabkan berdirinya kerajaan maritim di Sumatera Utara, seperti Pidie,
Pasai dan kemudian Aceh. Malaka, yang sudah merupakan pelabuhan penting sebelum
rajanya masik islam dan bergelar Sultan Malaka, sengaja menarik perdagangan
Islam.
Perlindungan
militer dan politis karena ancaman Ayuthia (Siam) maupun Majapahit (jawa)
merupakan faktor lain perubahan agama di Malaka. Sejarawan O.W Woters
menunjukan alasan konkret mengapa para maharaja Malaka masuk agama Islam, yakni
untuk memperkuat kedudukan dangang dan politiknya. Memang, Malaka dibawah para
sultannya yang Islam menjadi pelabuhan dan pusat imperium lautan yang terbesar di Asia tenggara sampai 1512, ketika
kerajaan maritim ini jatuh ke tangan Portugis.sampai masa itu Malaka menjadi
pengganti Sriwijaya dan pendahulu Singapura di zaman modern.
Penyebaran
Islam melalui perdagngan itu, bagi Indonesia, mengungkap masalah lain di
samping masalah kerjaan dengan Brahmanisme-nya dan dinamika masyarakat, yakni
konflik anatara Negara maritim dan negara agraris-pedalaman. Para sejarawan
seperti J.C Van Leur dan Bretman Johannes Otto Schrieke, sudah mengajukan
pertentangan atara kedua struktur politis tersebut. Sriwijaya mewakili pola
maritim melawan Mataram I di sekitar abad ke-9-10. Kerajaan-kerjaan islam
pesisir seperti Demak, Kudus, Tuban, Giri Ngampel mewakili pola maritim. Hal yang
serupa juga terjadi antara pesisir utara melawan Mataram II (Senopati Sultan
Agung) pada abad ke 16.
Singkat
kata, penyebaran agama Islam ke Indonesia harus dilihat tidak hanya karena
konflik sosial antara kerajaan Brahman dengan masyarakatnya, tetapi juga dari
sudut persaingan anatara pesisir dan agraris pedalaman, antara kosmopolitanisme
dan isolasionalisme. Melalui pola pertentangan ini para sejarwan mencoba
menjelaskan perubahan sosial, politik, maupun ekonomi yang terjadi.
Peran
Dongeng
![]() |
| doc. istimewa |
Bagaimana dengan
dongeng Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam? Zaman perlihan
agama di mana pun juga selalu kacau, baik itu peralihan ke Islam, ke Katolik,
atau ke Protestan. Perubahan ini selalu terkait dengan kisah-kisah ajaib. Yang terakhir
ini adalah untuk memperkokoh kepercayaan dan penghayatan agama.
Dalam agama Kristen
yang tersebar di Eropa ada banyak cerita
tentang kaum penyebar agama, orang suci, St. Patrick di Irlandia, St. George di
Inggris yang membunuh naga, St. Wilibrodus di Nederland, St. Nicolas, atau St.
Elizabeth yang melakukan hal-hal ajaib. Banyak di antara orang-orang suci itu,
dalam usaha merasionalisasikan agama, kini mulai dikeuarkan dan tidak diakui
oleh gereja Katolik-Roma. Kendati demikian usaha ini banyak menimbulkan protes dari kalangan umat
Katolik, hal yang menunjukan bahwa Barat pun terdapat kesukaran untuk
menyesuaikan rasio/ilmu dan kepercayaan dan penghayatan. Jadi, tidaklah mengherankan
bila penyebaran agama islam di Jawa ada pula kisah-kisah keajaiban Wali Songo.
Agama
dan Politik
![]() |
| doc. istimewa |
Ketika menulis teorinya mengenai peralihan agama di Asia
Tengga, H.J Benda mengambil contoh peran para biksu dalam melawan pemerintahan
Ngo Dien Dhiem di Vietnam selatan, peran para pongyi dalam pemberontakan Saya Sen di Myanmar pada tahun 1930-an,
dan peran para ulama dalam pemberontakan di Cilegon (1882) di Indonesia.
Para pemberontak dalam
karya H.J Benda itu gagal melawan negara. Sekarang peran agama sebagai jawaban
masyarakat terhadap penindasan negara lebih relevan lagi, sebab revolusi yang
dipimpin oleh Ayatollah Khomeini terbukti dapat menggoncangkan negara totaliter
modern di bawah Syah Iran. Demikian pula Polandia, di mana timbul reaksi keras
masyarakat disekitar gereja terhadap rezim totaliter modern.
Selama ini cendikiawan
selalu mengira penindasan oleh negara dan perluasan campur tangan aparat dalam
kehidupan masyarakat tanpa persetujuan masyarakat, yang merupakan gejala hal
negara Dunia Ketiga, akan dijawab oleh masyarakat dengan revolusi liberal,
sosialis bahkan komuni. Padahal dari dahulu sampai kini jawaban masyarakat bias
juga melalui agama. Dengan kata lain, bail pada zaman kolonialmaupun nasional
agama dapat menjadi unsure politis. (O-O-H)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar